Menu

Belajar dari 7 Kesalahan dan Penyesalan Pekerja Profesional di Awal Karier Mereka

Para pekerja profesional ternyata menyimpan “penyesalan” berupa kesalahan yang mereka lakukan selama bekerja, terutama di fase awal kariernya.

Sebelumnya, saya membaca curhatan Darius Foroux di situs Medium. Darius adalah seorang penulis buku Massive Life Success dengan segudang pengalaman sebagai pekerja dan pengusaha.

Dalam curhat tersebut, Do’i membahas hal-hal yang ia harap nggak pernah ia lakukan di dalam kariernya. Dengan kata lain menyesali kesalahan, sebagai bahan pelajaran dan refleksi diri.

Biar lebih afdol, saya juga bertanya-tanya kepada pekerja profesional senior serta pada diri sendiri mengenai hal-hal yang disesali sepanjang bekerja. Dan inilah rangkuman kesalahan yang mudah-mudahan bisa menjadi pelajaran buat kamu.

1. Mengeluh soal pekerjaan di media sosial

media sosial

Ini seriiiiiing banget dilakukan sama banyak orang, padahal:

A. Nggak bagus untuk pekerjaan dan karier, karena terkesan nggak profesional.

B. You can get into trouble atau setidaknya dapat penilaian minus dari perusahaan/atasan/rekan kerja.

C. Sama juga kayak menyabotase diri kamu sendiri. sebab keluhan—terutama di medsos—nggak bikin kamu termotivasi atau terlepas dari beban.

Bisa jadi orang kita nggak niat buat ngeluh, apalagi menjelekkan perusahaan. Mungkin hanya lagi jenuh atau bad mood. Tapi keluh kesah tersebut bakal terpajang di akun kita dan bisa dilihat orang banyak.

“Di awal bekerja dulu, aku suka nggak mikir kalau posting sesuatu di medsos. Kadang, aku mengeluhkan soal pekerjaan di Facebook. Mungkin saat itu lagi galau kali, ya. Kalau dibaca sekarang, rasanya menyesal pernah posting kayak begitu. Kini, sebisa mungkin aku nggak mengeluh soal pekerjaan di media sosial,” ungkap Andia Kusumawardhani, Pemimpin Redaksi dan Chief Communications Officer GADIS.

2. Buang-buang waktu

Berapa banyak waktu yang sudah terbuang untuk melakukan sesuatu yang nggak bermanfaat?

Bukan berarti harus kerja terus-terusan. Quality time sama keluarga atau teman, travelling untuk membuka wawasan, olahraga, melakukan kegiatan sosial dan spiritual, jelas bermanfaat dan nggak membuang waktu.

Tapi gimana dengan waktu yang tersia-siakan buat bengang-bengong, malas-malasan seharian, ngegosip nggak jelas. main game non stop, begadang—atau dalam kasus saya—suka lupa waktu saat nonton maraton serial.

Kalau kata mas Darius, “Hiburan itu memang menyenangkan, tapi ‘kan kamu nggak harus selalu nyantai di tiap waktu luang yang kamu miliki.” Darius sendiri ngaku menyesal dengan banyaknya akhir pekan dan malam yang dia habiskan dengan “meaningless

#Jleb

3. Tidak meminta bantuan

Ini mungkin karena kepengen mandiri, takut dianggap nggak becus, atau canggung meminta bantuan orang lain. Padahal dalam bekerja, kita butuh masukan, bantuan dan support orang lain, terutama yang sudah senior.

Kalau menurut Darius, kita nggak bisa sukses sendirian. Dan jika ingin dibantu, kita harus memintanya.

4. Pasif

Jika menginginkan sesuatu kita harus proaktif, bahkan harus mengejar dan berusaha meraih kesempatan tersebut. Nggak bisa adem-ayem aja

Rizky Muhammad, pengusaha yang berpengalaman sebagai pekerja profesional selama belasan tahun mengungkapkan, “Dulu, saya cenderung pasif, nggak bertanya atau minta feedback, dan nggak kelihatan memiliki ambisi. Saya cukup happy dengan pekerjaan dan tanggung jawab yang diberikan.

Walaupun berdedikasi dan bekerja keras, tetapi saya merasa tidak mengekspos diri sendiri untuk mengambil tantangan dan tanggung jawab yang lebih besar.

Saya baru menyadari kesalahan tersebut setelah 1-2 tahun bekerja. Ketika teman-teman “seangkatan kerja” mendapat promosi lebih cepat, bonus lebih banyak, dan kesempatan yang lebih baik. It was my turning point, yang membuat saya mengevaluasi diri. Akhirnya saya pun berubah menjadi proaktif. Keadaan pun berubah (menjadi lebih baik)."

kesalahan karier

5. Nge-geng

Dari zaman sekolah dan kuliah, biasanya kita akan main dan akrab dengan sekelompok teman yang nyambung a.k.a ngegeng.

Di dunia kerja nge-geng merupakan sesuatu yang nggak menguntungkan. Ditambah lagi kalau kamu dekat dengan orang-orang yang “salah”. Misalnya, punya reputasi yang kurang oke, atau punya masalah dengan banyak orang. Ujung-ujungnya kamu jadi kecipratan image tersebut,

Tambahan lagi, dekat dengan kelompok tertentu bisa bikin kamu terlihat kurang profesional.

Hal ini pernah dialami Rizky, “Waktu awal masuk kerja saya kurang mengobservasi kelompok di kantor, dan mungkin masih terpengaruh dengan kebiasaan bergaul saat kuliah yang cenderung bergeng. Alhasil, saya pun terlalu dekat dengan kelompok yang ternyata memiliki reputasi yang kurang baik.

Seharusnya, saya lebih netral dan tidak mendekatkan diri dengan kelompok tertentu. Hal ini pun mengganggu reputasi saya, dan membutuhkan usaha keras untuk mengembalikan reputasi tersebut.”

6. Mengutamakan uang

Okay, salah satu tujuan kita bekerja adalah memperoleh penghasilan. Namun, itu bukan satu-satunya tujuan.

Menurut Darius, kita juga harus mempertimbangkan hal lain yang justru lebih berharga, seperti pelajaran apa yang bisa kita dapatkan dari pekerjaan tersebut?  Apakah perusahaan tersebut membuat diri kita bersemangat? Apakah bisa membantu orang lain?

Kalau uang yang menjadi patokan, maka dari pengalaman Darius, inilah yang akan terjadi:

1. Ujung-ujungnya kamu akan “jualan” alias menjalankan tugas berhubungan dengan sales, dan pekerjaan tersebut nggak kamu sukai.

2. Kamu akan menjadi pengusaha atau pekerja lepas yang super agresif dengan orientasi “berjualan”.

3. Kamu akan mengerjakan pekerjaan yang berlawanan dengan hati nurani kamu.

Jadi, jangan pernah menjadikan uang sebagai prioritas utama.

7. Merasa di posisi aman

Jadi karyawan berprestasi, punya skill mumpuni, mampu menyelesaikan pekerjaan dengan baik? Yup, kamu pantas berbangga, tapi jangan pikir kamu sudah aman, dan dengan mudah kariermu semakin bersinar.

Dunia terus berkembang dan akan muncul pesaing baru. Maka kamu harus terus meningkatkan dan mengembangkan skill yang dimiliki. Kalau kamu merasa sudah jago dan berada di posisi aman, kamu bakal stuck.

Waktu saya mulai bekerja sebagai penulis dan jurnalis, saya nggak menemukan kendala berarti. Background pendidikan dan pengalaman selama kuliah sangat mendukung pekerjaan saya, terutama dalam skill menulis dan meliput.

Kebalikan dengan teman saya. Tata bahasa dan EYD-nya kacau balau. Kebetulan, ia bekerja di media cetak (dan online) harian. Jadi ia lebih banyak menulis dan meliput ketimbang saya yang bekerja di majalah. Ia pun sering dapat “pelajaran tambahan” dan evaluasi dari kantornya.

Ternyata progress teman saya sangat pesat. Dalam setahun skill-nya bisa meningkat pesat. Sedangkan saya begitu-begitu. Hal ini bikin saya sadar, kalau nggak segera meningkatkan skill dan kualitas, bisa-bisa saya tertinggal dari yang lain.

Mudah-mudahan kamu bisa belajar dari kesalahan dan "penyesalan" ini, ya.

Baca juga:

(sumber gambar: empregopelomundo.com, mgxcopy.com, waypedia.com)

Dibuat dan dikembangkan di Jakarta, Indonesia Hak Cipta Dilindungi 2015 - 2018 Youthmanual ©