Menu

5 Hal yang Mungkin Nggak Kamu Sangka Tentang Profesi Astronot

Sudah nonton film Gravity, The Martian, atau Interstellar? Keren banget, ya! Malah mungkin, setelah nonton film-film tersebut, kamu jadi kepikiran, “Asyik kali, ya, kalau bisa jadi astronot, bikin penelitian luar angkasa, memajukan ilmu sains, dan bikin bangga negara?”

Asyik banget, dan super cool.

Prestasi Indonesia di bidang astronomi memang jarang terdengar. Meski begitu, bukannya nggak mungkin orang Indonesia bisa berkiprah di bidang tersebut.

Contohnya, masih ingat Ibu Pratiwi Sudarmono? Kelahiran 31 Juli 1952 tersebut  adalah ilmuwan dari Universitas Indonesia yang mendalami ilmu mikrobiologi. Pada tahun 80an, Indonesia berencana akan memberangkatkan astronot—termasuk Ibu Pratiwi—ke luar angkasa menggunakan pesawat ulang-alik Columbia STS-61-H, untuk meluncurkan tiga satelit komersil Skynet 4A, Palapa B3 dan Westar 6S.

Lalu Ibu Pratiwi, bersama astronot Indonesia lainnya Taufik Akbar, dilatih oleh NASA (National Aeronautics and Space Administration) Amerika Serikat, sampai mereka siap diterbangkan ke luar angkasa. Namun sayang, Ibu Pratiwi yang seharusnya berangkat pada bulan Juni 1986 batal terbang, karena ada insiden meledaknya Pesawat Challenger, sehingga NASA membatalkan beberapa penerbangan ke luar angkasa, termasuk penerbangannya Ibu Pratiwi.

Yah, walaupun statusnya hanya “nyaris” jadi astronot, intinya, misi astronomi nggak mustahil dilakukan oleh orang Indonesia kok, sob. Perempuan pula!

Bicara soal astronot perempuan, beberapa bulan lalu, cosmopolitan.com ngobrol bareng Shannon Walker, seorang astronot perempuan dari NASA, Amerika Serikat.

Shannon pertama kali pergi ke luar angkasa pada tahun 2010, untuk misi Expedition 24 di stasiun luar angkasa internasional, dan dia cerita banyak banget hal-hal menarik tentang menjadi astronot. Buat kamu yang punya angan-angan terjun ke bidang astronomi, simak cerita astronot Shannon Walker berikut ini!

1. Nggak ada satu jalur pendidikan khusus untuk menjadi astronot.

“Semua astronot pasti punya gelar di bidang sains, atau teknik, atau kedokteran. Tetapi nggak ada, lho, satu jalur pendidikan khusus yang dianggap jaminan bisa membuat kita bekerja di NASA.

Namun satu persamaan semua astronot adalah, kami semua sangat unggul di bidang studi kami. Saya adalah lulusan jurusan Fisika dan Fisika angkasa, dan sebagai mahasiswa dulu, saya cukup berprestasi. Bahkan saya mulai bekerja di Johnson Space Center di Houston, Texas, langsung setelah lulus kuliah, sebagai robotics flight controller.

Tujuh belas tahun kemudian—dan setelah selesai kuliah sampai level PhD—akhirnya saya terpilih jadi kandidat astronot.”

2. Seorang astronot justu bakal menghabiskan 90 persen waktunya bekerja di bumi.

“Dulu, pada masa kejayaan program luar angkasa, dalam setahun, bisa ada 40 atau 50 astronot diterbangkan ke luar angkasa. Pada masa-masa itu, NASA bisa menerbangkan 4 astronot Amerika setahun.

Kami punya sekitar 45 astronot aktif, jadi seorang astronot Amerika mungkin bakal hanya terbang sepuluh tahun sekali. Berada di luar angkasa rasanya sangat luar biasa, tetapi seorang astronot juga harus cinta dengan pekerjaan yang dia lakukan di bumi, karena seorang astronot bakal lebih banyak bekerja di bumi.”

3. Astronot pemula bakal harus “kembali ke sekolah” lagi.

“Setelah seseorang terpilih jadi astronot, dia harus menjalani pelatihan selama sekitar dua tahun dulu, untuk memenuhi syarat terbang ke angkasa.

Kebanyakan dari pelatihan tersebut bertempat di ruang kelas, jadi memang serasa sekolah lagi—mendengarkan kuliah, ikut ujian, dan mempelajari semua sistem di stasiun luar angkasa. Walaupun semua astronot punya latar belakang pendidikan yang sangat tinggi, untuk belajar ilmu dasarnya, tetap akan makan waktu sekitar dua tahun.

Trus, begitu seorang astronot akhirnya mendapat tugas terbang ke angkasa, dia akan dilatih lagi selama 2-3 tahun. Hanya untuk satu misi terbang ke stasiun luar angkasa, lho! Untuk penerbangan pertama saya, saya dilatih selama tiga tahun terlebih dahulu.”

4. Astronot bukan sekedar profesi, tetapi gaya hidup.

“Seorang astronot nggak bisa menentukan waktu kerja kamu sendiri. Soalnya, selama menunggu tugas penerbangan—alias selama bekerja di bumi—kita mungkin akan diberikan tugas-tugas teknis, seperti misalnya bekerja di pusat kontrol.

Nah, stasiun luar angkasa beroperasi berdasarkan Greenwich Mean Time (GMT), dan harus selalu ada orang yang bertugas di pusat kontrol 24 jam sehari. Jadi kita mungkin aja harus bekerja di pusat kontrol pada tengah malam.

Kita juga nggak bisa menentukan tempat kerja kita sendiri. Misalnya, Johnson Space Center adalah tempat pelatihan astronot Amerika, sehingga semua astronot Amerika tinggal dekat sana, yaitu daerah Houston. Tetapi astronot Amerika juga kadang harus menetap dan berlatih di Jepang, Rusia, Jerman, dan Kanada, karena Amerika Serikat punya hubungan kerjasama perihal luar angkasa dengan negara-negara tersebut.”

5. Mustahil untuk tahu gimana rasanya hidup di tempat tanpa gravitasi, sampai kita benar-benar berada di luar angkasa.

“Walaupun pusat pelatihan astronot di bumi punya “ruang tanpa gravitasi, tetapi nggak ada “ruang tanpa gravitasi” yang benar-benar bisa memberikan “sensasi” seperti aslinya di luar angkasa sana. Pokoknya kamu nggak bisa memahami bagaimana rasa sebenar-benarnya, sampai kamu betul-betul berada di angkasa.

Hidup di luar angkasa selama berbulan-bulan—bahkan bertahun-tahun—tanpa gravitasi rasanya memang unik, bahkan untuk hal-hal sederhana. Misalnya, cuci rambut. Air nggak bisa mengalir di angkasa. Jadi, kalau cuci rambut, kita harus mencocol sampo dan air dari botol minuman ke rambut dengan hati-hati. Kita nggak bisa memakai sampo terlalu banyak, karena nanti samponya menempel ke rambut (berhubung nggak ada gravitasi) dan berantakan ke mana-mana.

Kita nggak bisa menghindari mencuci rambut, karena selama tinggal di stasiun luar angkasa, seorang astronot harus berolahraga setiap hari. Trus, nggak ada pengering rambut, sehingga ketika selesai keramas, rambut kita bakal seperti rambut Medusa yang berdiri kemana-mana, berhubung rambut nggak bisa “jatuh” akibat nggak ada gravitasi.

Indra perasa kita pun akan berubah di angkasa. Tanpa gravitasi, cairan tubuh di kepala kita menjadi lebih banyak, sehingga kita akan selalu merasa seperti sedang flu dengan hidung tersumbat. Akibatnya, kita nggak bisa merasakan makanan dengan baik. Makanya banyak astronot yang jadi suka makanan yang lebih pedas dan berbumbu selama tinggal di luar angkasa, karena makanan biasa terasa lebih hambar.”

***

Eits, ceritanya belum selesai, nih. Berikutnya, Shannon Walker cerita soal bagaimana astronot itu sebenarnya mirip dengan “superhero” karena harus menguasai skills yang warbiyasak. Ditunggu, ya!

(sumber gambar: pinterest.com, uniqpost.com, cosmopolitan.com)

Dibuat dan dikembangkan di Jakarta, Indonesia Hak Cipta Dilindungi 2015 - 2018 Youthmanual ©