Menu

7 ‘Kemampuan Superhero’ yang Harus Dimiliki Seorang Astronot

Setelah nonton film Gravity, The Martian, atau Interstellar, wajar banget kalau kamu jadi ingin terjun ke bidang astronomi, memajukan ilmu sains, dan bikin bangga negara. Ilmu astronomi memang super cool, sih!

Apalagi, meski prestasi Indonesia di bidang astronomi jarang terdengar, orang Indonesia, kok, bisa berkiprah di bidang tersebut.

Di artikel sebelumnya, Youthmanual sudah sharing sekilas tentang cerita Shannon Walker, seorang Astronot perempuan dari NASA, Amerika Serikat. Beberapa waktu lalu, Shannon ngobrol banyak dengan cosmopolitan.com tentang serba-serbi jadi astronot.

Dari obrolan tersebut, Youthmanual menyimpulkan bahwa seorang astronot mungkin hampir sama dengan superhero. Kenapa? Karena skills yang harus dikuasai gokil banget!

Kamu juga mungkin tahu bahwa menjadi astronot nggak sekedar keren-kerenan terbang ke luar angkasa. Tetapi mungkin kamu nggak tahu bahwa untuk menjadi astronot, seseorang harus…

1. … Sangat pintar dan menguasai bidang yang dipelajari saat kuliah, juga sabar. Seleksi astronot kompetitif banget, gaes!

Kata Shannon, “Bisa tembus bekerja di NASA itu seperti bisa menembus seleksi HR paling ketat sedunia. Bayangannya, mungkin ada bisa ada sekitar 18,000 orang yang mendaftar kerja di NASA, namun hanya akan ada 8 orang yang terpilih jadi astronot baru.

Untuk bisa terpilih bekerja di NASA, kita TIDAK harus kuliah jurusan astronomi. Kita bisa kuliah di jurusan sains apapun. Yang penting, kita harus sangat unggul dan menguasai bidang kita, entah itu Matematika, Biologi, Fisika, Pertanian/Botani (seperti tokoh Matt Damon di film The Martian), atau apapun. Bahkan seorang pilot—seperti tokoh Matthew McConaughey di film Interstellar—juga bisa masuk NASA.

Meski begitu, tetap aja ada faktor keberuntungan. Jadi, mungkin kita sudah sangat qualified alias memenuhi syarat bekerja di NASA, tetapi kita tetap nggak terpilih. Kenapa? Karena, misalnya, kebetulan NASA sedang nggak butuh tenaga dari bidang kita.

Contohnya, saat kita melamar jadi astronot, mungkin NASA sedang kekurangan dokter medis atau test pilots, sehingga mereka butuh seseorang dengan latar belakang tersebut. Kalau kita insinyur, tenaga kita kurang dibutuhkan.

Bahkan kalau kita adalah seorang kandidat astronot yang benar-benar sesuai dengan apa yang sedang dibutuhkan NASA, kita tetap saja harus melewati dua babak wawancara, dan menjalani tes kesehatan yang sangat panjang untuk memastikan kita cukup sehat untuk melakukan ekspedisi luar angkasa.

Di Amerika Serikat, NASA hanya merekrut astronot baru beberapa tahun sekali, lho. Soalnya, di Amerika, merekrut astronot harus ditentukan lewat tindakan kongres dulu.

Artinya, kalau kita melewatkan kesempatan melamar jadi astronot, kesempatannya bisa jadi baru akan datang lagi bertahun-tahun kemudian. Saya sendiri baru berhasil menyelesaikan semua tahap wawancara—sebanyak  lima kali—dalam setelah 14 tahun. Saya melamar jadi astronot pada tahun 1994, dan baru akhirnya diterima NASA pada tahun 2004.”

2. … Punya kondisi fisik yang sangat prima.

“Kesehatan mental tentunya penting banget bagi seorang astronot, tapi begitu juga dengan kesehatan fisik.

Sebagai contoh, space walks—berjalan di sebuah permukaan di luar angkasa. Misalnya, berjalan di atas bulan—tuh sangat, sangat berat dan menantang.

Di bumi, seorang astronot harus latihan space walks dengan cara berjalan bolak-balik di dalam kolam raksasa, sambil memakai pakaian khusus yang beratnya sekitar 150 kilogram.

Setiap sesi latihan space walks memakan waktu sekitar enam jam. Lebih lama dari durasi lari maraton, lho! Dan walaupun kita nggak sedang mendapatkan tugas misi khusus, seorang astronot harus latihan space walks setiap beberapa bulan sekali.”

3. … Jago menguasai banyak hal.

“Seorang astronot harus bisa menguasai banyak hal. Misalnya, kamu seorang ahli biologi. Saat bekerja sebagai astronot, kamu nggak boleh hanya bisa melakukan penelitian di lab. Kamu juga harus tahu cara melakukan sedikit-sedikit hal dari berbagai bidang.

Umumnya, astronot—dari latar belakang bidang apapun—perlu punya:
    
a. Kemampuan mekanikal, karena kita akan harus sering merakit atau merawat mesin dan alat selama berada di stasiun luar angkasa.

b. Pemahaman teknologi secara luas.

c. Kemampuan public speaking. Iya, kemampuan berbicara depan umum adalah bagian dari pekerjaan kita juga, lho, karena kita harus menjelaskan penemuan angkasa kita ke semua orang, termasuk institusi pendidikan, anggota kongres, sampai jurnalis media.

d. Kesehatan dan kebugaran yang sesuai persyaratan

e. Bisa mempelajari bahasa asing dengan cepat

Makanya, seorang astronot biasanya jagoan atau juara kelas saat kuliah, di bidang jurusan masing-masing.”

4. … Mampu menyingkirkan ambisi pribadi, untuk menjadi seorang team player

“Misalnya, kamu bekerja di NASA sebagai ilmuan kimia. Mungkin kamu adalah seorang ahli kimia terbaik di dunia, tetapi bisa jadi kamu ditugaskan untuk melakukan misi luar angkasa yang NGGAK membutuhkan eksperimen kimia apapun. Maka akhirnya, kamu harus bisa melakukan eksperimen biologi, misalnya.

Artinya, kamu harus melepaskan ambisi pribadi, trus ngalah untuk terjun ke bidang yang bukan spesialisasi kamu.

Trus, selama di stasiun luar angkasa, kita juga bakal hidup berdampingan dengan sangat dekat bersama anggota kru lain, dan kita harus bergantung satu sama lain. Jadi, kita harus akrab dan akur. Kalau ada emerjensi atau hal-hal genting, kita harus menghadapinya bersama, sebagai sebuah kru yang solid.”

5. … Kuat menyesuaikan kondisi fisik antara di bumi dengan di luar angkasa.

“Di luar angkasa, badan manusia bisa berfungsi dengan baik-baik saja, tetapi kondisi luar angkasa ‘kan tetap saja berbeda dengan kondisi bumi.

 Di luar angkasa—dimana tidak ada gravitasi—penggunaan otot kita berbeda dengan saat beraktivitas di bumi. Tanpa gravitasi, misalnya, kita jadi nggak pernah duduk di kursi atau berjalan dengan kaki, karena kita selalu melayang.

Akibatnya, ketika harus kembali ke bumi, adaptasinya luar biasa, lho! Kita bisa lupa sama sekali cara melakukan hal-hal sederhana, seperti berjalan.

Makanya, selama menetap di luar angkasa, seorang astronot harus berolahraga setiap hari untuk mengindari penurunan fungsi otot.

Trus, ketika kita kembali ke bumi setelah sekian lama, bagian dalam kuping kita juga akan jadi kacau. Bagian dalam kuping adalah bagian yang memberikan kita rasa keseimbangan, dan dia bekerja berdasarkan gravitasi. Jadi, kalau kita sudah lama nggak merasakan gravitasi, ketika akhirnya balik ke bumi, kita bisa lama sekali merasa pusing terus-terusan. Setelah beberapa bulan, baru kita bisa merasa normal lagi.”

6. …Belajar bahasa asing. Wajib!

“Sekarang ini, Rusia adalah partner utama NASA. Bahkan astronot Amerika diterbangkan dengan pesawat Rusia. Dengan demikian, banyak pelatihan astronot Amerika yang dilakukan di Rusia. Saat di luar angkasa pun, kadang kami harus berkomunikasi dengan pusat kontrol Rusia dengan bahasa Rusia.

Saya mulai belajar bahasa Rusia ketika saya sudah berumur 40an, dan itu susahnya minta ampun.

Selain itu, kalau kita ditugaskan ke stasiun luar angkasa, bahasa resmi di sana adalah bahasa Inggris, tetapi nggak semua astronot bisa berbahasa Inggris dengan lancar.”

7. … Ikhlas harus jauh dari keluarga dalam jangka waktu lama.

“Sekarang ini, sebuah penugasan di stasiun luar angkasa biasanya berdurasi enam bulan. Sebelum diterbangkan, kita harus dilatih dulu selama 2-3 tahun—kadang di beberapa negara-negara lain—sambil bekerja biasa. Trus, setelah kembali dari angkasa selama 6 bulan, kita harus meluangkan waktu sektar 6 bulan untuk melakukan hal-hal pasca penerbangan. Misalnya, reconditioning (melatih badan untuk kembali menyesuaikan diri di bumi), melakukan konferensi pers, dan sebagainya.

Jadi untuk satu misi saja, total kita bisa nggak pulang ke rumah selama empat tahun.

Jadi kebayang beratnya profesi ini bagi keluarga! Kita harus punya keluarga yang suportif, mandiri, dan nggak baper meski kita pergi jauh terus. Stasiun luar angkasa nggak punya fasilitas hape, tetapi ada koneksi email dan telpon voiceover. Jadi kalau satelit sedang terpasang dengan baik, bisa telpon keluarga di bumi, kok.”

***

Jadi, kira-kira, do you have what it takes to be an astronaut?

(sumber gambar: inverse.com, businessinsider.com, asc-csa.gc.ca, blogs.esa.int, spaceflightinsider.com, gazettenet.com)

Dibuat dan dikembangkan di Jakarta, Indonesia Hak Cipta Dilindungi 2015 - 2018 Youthmanual ©