Menu

4 Kesalahpahaman Utama Tentang Ilmu Arkeologi. Kamu Termasuk yang Berpikir Begini Nggak?

Oleh Asri Hayati Nufus

1. Arkeologi memang mempelajari fosil, tetapi bukan fosil dinosaurus. 

Banyak orang beranggapan bahwa mahasiswa Arkeologi hanya berurusan dengan fosil. 

Makanya, pertanyaan yang paling sering didapat oleh mahasiswa Arkeologi—dari orang-orang yang awam terhadap Arkeologi—adalah pertanyaan seputar fosil, bahkan batu. Mungkin kamu juga kira mahasiswa Arkeologi cuma mempelajari fosil, ya? 

Well, jurusan kuliah Arkeologi memang mempelajari fosil. Tetapi bukan sembarang fosil, gaes! Fosil yang dipelajari mahasiswa Arkeologi adalah fosil manusia dan hewan yang masih relevan dengan kebudayaan manusia. 

Jangan lupa, inti dari ilmu Arkeologi adalah mempelajari perilaku manusia, dari bukti-bukti material yang ditinggalkan manusia-manusia pendahulu kita. 

Nah, fosil dinosaurus dan fosil makhluk prasejarah lainnya berasal dari kehidupan pada pembentukan awal bumi, dan termasuk dalam disiplin ilmu Paleontologi. 

Jadi, Arkeologi nggak mempelajari fosil dinosaurus, gaes. Wong semua dinosaurus mati sekitar 65 juta tahun yang lalu, dan manusia awal baru muncul sekitar 4 juta tahun yang lalu! Maka bisa dipastikan bahwa dinosaurus nggak ada relevansinya dengan kebudayaan manusia.

2. Manusia prasejarah nggak seperti yang digambarkan dalam film-film

Apa yang ada di benak kamu ketika mendengar kata “manusia prasejarah”? 

Mungkin kamu membayangkan mereka sebagai manusia yang primitif, barbar, nggak beradab, nggak kenal teknologi. Mungkin juga kamu membayangkan manusia prasejarah seperti yang sering digambarkan di film-film Hollywood—bodoh, liar, atau orang bodoh yang liar! 

Padahal, ilmu Arkeologi nggak pernah menggunakan istilah “primitif” untuk menggambarkan sebuah budaya atau masyarakat, lho! Deskripsi tersebut adalah istilah “etnosentris” yang memandang kebudayaan dari kebudayaan sendiri, walaupun memang ada teori mengenai perkembangan kebudayaan dari Henry Lewis Morgan yang dipengaruhi oleh teori evolusi dari Darwin mengenai makhluk hidup. 

Menurut ilmu Arkeologi, perkembangan kebudayaan manusia ada tiga, yaitu savagery, barbarism, dan civilization.

Manusia prasejarah memang menggunakan peralatan sederhana untuk kehidupan sehari-hari, seperti misalnya peralatan dari batu. Dalam hidup bermasyarakat, sistem organisasi mereka juga simpel banget. 

TETAPI hal-hal tersebut bukan menandakan mereka dungu, gaes!

Manusia prasejarah mungkin saja lebih pintar daripada manusia setelah era tulisan. Mungkin saja mereka menyimpan pengetahuan-pengetahuan hebat dalam kepala mereka dan suskes menurunkannya pada generasi selanjutnya. 

Jangan lupa, ada banyak sekali ilmu yang diturunkan dari generasi ke generasi secara verbal, yang akhirnya berkembang menjadi legenda atau mitos yang nggak ada bukti tertulisnya. Memang, salah satu cara mewariskan kebudayaan adalah secara verbal, dengan bercerita dari generasi ke generasi.

Jadi, bisa dipastikan bahwa manusia prasejarah nggak se-“primitif” itu, kok. Bahkan kalau dilihat dari bukti gambar-gambar cadas yang ada di gua-gua, itu tanda bahwa manusia prasejarah sudah mengenai teknologi, dengan adanya gambar perahu atau peralatan batu.

3. Tujuan belajar ilmu Arkeologi bukan untuk melakukan perburuan dan penjarahan harta karun

Sedih, lho, kalau profesi Arkeolog diidentikkan dengan perburuan harta karun atau penjarahan makam. Padahal kegiatan ilmu Arkeologi sebenarnya mencari tahu mengenai manusia-manusia pada masa lalu, lewat berbagai artefak (jadi, artefak yang nggak memiliki informasi mengenai masa lalu, secara scientific dianggap tidak bernilai). 

Hal ini berkaitan dengan tujuan utama ilmu Arkeologi, yaitu merekontruksi kebudayaan dan perilaku manusia pada masa lalu.

Jadi, kerjaan seorang Arkeolog bukan memburu harta karun, lho. Walaupun—sekilas intermezzo aja, nih—profesi pemburu harta karun memang ada. Tokohnya adalaj Michael Hatcher, yang telah sukses memburu harta karun di penjuru dunia, termasuk benda muatan kapal yang tenggelam di Indonesia.

Arkeolog juga nggak melakukan penjarahan. Sebaliknya, pekerjaan seorang Arkeolog adalah mengkaji dan mengkonservasi artefak untuk kepentingan umum. 

Trus, walaupun kadang Arkeolog menggali makam, mereka bukan sedang menjarah, lho. Mereka menggali dengan izin dari pemerintah, lembaga yang bersangkutan, atau keturunan dari orang yang dimakamkan, untuk menginvestigasi pemilik makam tersebut. 

Pssst, meskipun begitu, sayangnya, penjarahan artefak memang ada, bahkan sudah dilakukan sejak lama. 

4. Pekerjaan Arkeolog bukan hanya menggali.

Orang sering mengaitkan arkeologi dengan penggalian, sampai-sampai Arkeolog suka disebut sebagai tukang gali. Padahal, tugas Arkeologi bukan saja menggali, lho. 

Setelah penggalian, seorang Arkeolog harus membuat laporan sebagai hasil pertanggungjawaban dari penggalian tersebut. Laporannya harus dikerjakan dengan teliti, jujur, dan sesuai dengan di lapangan. Bentuk laporannya terdiri dari laporan harian, yaitu catatan selama penggalian, serta gambar-gambar seperti gambar temuan pada kotak, gambar situs, serta gambar kotak. 

Selain itu, Arkeolog bekerja di laboratorium untuk menganalisis hasil temuan dari penggalian tersebut. Analisis ini nggak dapat selesai dalam waktu yang singkat. Butuh berminggu-minggu atau berbulan-bulan untuk melakukan analisis terhadap temuan, apalagi jika bentuk temuannya hanya berupa fragmen atau pecahan. Kebayang nggak, betapa sulitnya menganalisis bentuk awal dari fragmen temuan tersebut?

Nah, kalau kamu ingin mengetahui hal-hal seputar Arkeologi lebih lanjut, silahkan add dan follow akun-akun berikut ini, ya!

  • Twitter: @arkproject_
  • Instagram: ark.project
  • Official LINE: @ofc1838r
  • arkpro.blogspot.com

Sumber materi: White, Nancy Marie. 2008. Archaeology for Dummies. Wiley Publishing, Inc., Indianapolis, Indiana

(sumber gambar: wargamahasiswaarkeologiudayana.blogspot.com, projects-abroad.ie, kama-fibui.blogspot.com)

Dibuat dan dikembangkan di Jakarta, Indonesia Hak Cipta Dilindungi 2015 - 2018 Youthmanual ©