Menu

Persiapan Kuliah 101

Panduan ini akan membantumu untuk menyusun rencana kuliah dari bangku sekolah, mengenali bidang-bidang program studi kuliah, serta memilih kampus yang paling tepat buatmu.

Bisa dibilang berkuliah di Perguruan Tinggi Negeri alias PTN adalah impian sebagian besar pelajar Indonesia yang ingin melanjutkan studi ke pendidikan tinggi—termasuk kamu. Amirite?

Soalnya, sedari dulu, udah ada "kebanggaan" tersendiri yang melekat ketika kamu berhasil menembus PTN dan berkuliah di sana, seperti akreditasi program studi yang sudah terjamin dari pemerintah dan deretan prestasi yang pernah diukir oleh perguruan tinggi tersebut. Nggak heran pula kalau persaingan yang akan kamu temui juga bakal seketat korset Ratu Victoria. Duh!

Meskipun persaingannya ketat, bukan berarti bisa menembus PTN adalah hal yang nggak mungkin untuk diwujudkan, lho, ya. Untuk mengakomodasi banyaknya peminat, ada 3 jalur masuk PTN yang bisa kamu ikuti, yaitu Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN), Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN), dan Seleksi Mandiri.

Eniwei, apa sih bedanya antara SNMPTN, SBMPTN, dan Seleksi Mandiri? Gimana sistem dan teknisnya? Kapan masing-masing seleksi dilaksanakan? Seberapa besar peluang untuk menembus PTN kalau ikutan salah satu seleksi? Dan paling penting: seleksi yang mana yang harus kamu ikuti?

 

Seleksi Perguruan Tinggi Negeri dari Masa ke Masa

Biar nggak galau, kamu perlu tahu dulu kalau dari tahun ke seleksi penerimaan mahasiswa baru di PTN sudah mengalami berbagai perubahan—mulai dari nama, aturan main, jenis seleksi, hingga daya tampungnya. Cek, deh, seleksi mahasiswa PTN dari zaman old sampai zaman now!

SKALU dan SKASU (tahun 1970-an)

Tahun ‘70an, Sekertariat Kerjasama Antara Lima Universitas (SKALU) menggelar tes masuk PTN. Pesertanya mencapai puluhan ribu, sedangkan pilihan kampusnya hanya lima, yakni Universitas Indonesia , Institut Teknologi Bandung, Institut Pertanian Bogor, Universitas Airlangga, dan Universitas Gadjah Mada.

Akhir tahun 70an, PTN yang ikutan bertambah dengan Universitas Padjadjaran, Universitas Diponegoro, ITS, USU, dan ITS sehingga nama seleksinya diganti SKASU (Sekertariat Kerjasama Antar Sepuluh Universitas). Cek deh, apakah Pakde Bude kamu pernah mengalami ujian ini.

Sipenmaru (sekitar tahun 1983)

Kepanjangannya aadalah Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (Sipenmaru), di mana jumlah PTN yang ikutan sudah lebih banyak dan dikordinasikan oleh pemerintah. Diperkenalkan pula jalur non ujian yaitu PMDK alias Penelusuran Bakat dan Keahlian. Oya, sekarang istilah sipenmaru justru digunakan sama beberapa kampus swasta, lho.

UMPTN (1989-2001)

Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri ini konsepnya nggak beda jauh dengan ujian SBMPTN zaman now, yaitu kelompok ujian terbagi IPA, IPS, dan IPC, serta ada poin minus (-4) untuk jawaban salah. DI UMPTN ada dua soal ujian, pertama gabungan Matematika Dasar, Bahasa Inggris, dan Bahasa Indonesia, kemudian tes pelajaran IPA atau IPS. PMDK tetap berlangsung, namun selektif banget. Biasanya hanya para juara sekolah unggulan aja yang bisa ikutan seleksinya.

SPMB (2002-2007)

Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pendidikan UMPTN kemudian berganti nama menjad Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB) yang dikelola sama panitia SPMB. Namun kemudian terjadi konflik internal internal, yang mana 41 rektor dari 56 kampus yang  tergabung dalam SPMB melakukan protes terkait pelaksaan seleksinya.

SNMPTN (2008-2010)

Akhirnya, Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi RI turun tangan dengan mengadakan Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri. SNMPTN dilakukan dengan ujian tertulis. Perguruan tinggi yang ikutan awalnya 57 PTN. Selain itu, kampus-kampus juga sudah mulai melakukan ujian mandiri. Malah ujian mandiri di beberapa kampus seperti SIMAK UI berlangsung sebelum SNMPTN.

SNMPTN Tulis dan SNMPTN Undangan (2011-2012)

Di tahun 2011, mulai diberlakukan dua jenis seleksi, yakni SNMPTN Undangan atau jalur seleksi bagi pelajar yang diundang, yaitu dengan melihat prestasi mereka selama SMA. Adapula SNMPTN tulis alias dengan tes tertulis.

SNMPTN dan SBMPTN (2013-2015)

Supaya nggak rancu, SNMPTN tulis diganti dengan nama SBMPTN, sedangkan jalur undangan tetap SNMPTN. Proporsi penerimaannya, minimal 50 persen dari jalur SNMPTN serta 30 persen dari SBMPTN. Ujian Mandiri boleh dilakukan PTN dengan kuota maksimal 20 persen, atau boleh juga tidak seperti ITB dan Unpad yang nggak memiliki jalur mandiri. Jumlah PTN yang ikut serta awalnya 61 PTN,  kemudian meningkat menjadi 62 dan 64 PTN.

SNMPTN dan SBMPTN 2016

Jumlah PTN yang ikutan meningkat hingga menjadi 78 PTN. Skema penerimaannya juga mengalami perubahan yakni SNMPTN minimal 40 persen, SBMPTN minimal 30 persen, serta seleksi mandiri maksimal 30 persen. Yup, untuk seleksi mandiri maksimal banget 30 persen.

SNMPTN dan SBMPTN 2017

Proporsi penerimaan mahasiswa mengalami perubahan lagi, sehingga jalur SNMPTN dan SBMPTN masing-masing menjadi minimal 30 persen dari total kuota. Sementara jalur mandiri, maksimal 30 persen. Nah, sejak 2016 lalu, ada beberapa kampus yang memakai skor SBMPTN sebagai penilaian seleksi mandiri mereka. Jumlah kampus yang berpartisipasi juga bertambah menjadi 85 perguruan tinggi negeri.

Berikut skema penerimaan mahasiswa baru di beberapa PTN pada 2017 lalu:

Universitas Indonesia

ui

Institut Teknologi Sepuluh Nopember 

ITS

Universitas Negeri Semarang

UNS

Institut Teknologi Bandung 

itb

Universitas Padjadjaran 

unpad

Universitas Pendidikan Indonesia 

upi

Universitas Sebelas Maret 

USM

 

SNMPTN dan SBMPTN 2018

Sampai saat ini, pihak kementerian masih mengevaluasi hasil penerimaan PTN tahun lalu. Jadi belum ada keterangan resmi apakah ada komposisi perubahan kuota jalur masuk PTN. Trus, ada juga komentar soal pengurangan kuota mahasiswa baru S1 reguler swasta, meskipun masih sekadar wacana. Hmm, siap-siap, nih!

 

Apa, Sih, Bedanya SNMPTN, SBMPTN, dan Seleksi Mandiri?

Masih ketuker-tuker antara pengertian SBMPTN dan SNMPTN? Masih bingung gimana jalur ujian mandiri untuk masuk PTN? Trus, kamu tahu nggak gimana perubahan kuota masuk PTN tiap tahunnya?

Kamu perlu tahu nih, perbedaan-perbedaan mendsar dan peluang di antara berbagai seleksi PTN. Berikut perbedaan SNMPTN, SBMPTN dan Seleksi Mandiri yang harus kamu pahami. Mudah-mudahan salah satu jalur di bawah ini bisa jadi pintu masuk ke PTN impian, ya!

 

SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri)/Jalur undangan

  1. Jalur undangan bukan berarti PTN kirim-kirim undangan ke rumah kamu, ya. Jalur ini adalah jalur memasuki PTN tanpa ujian tertulis. Dengan kata lain, PTN “mengundang” kamu untuk masuk ke universitasnya.
     
  2. Untuk mendapatkan undangan keramat ini, kamu harus mendaftar ke panitia SNMPTN terlebih dahulu melalui sekolah. Lalu kamu akan diseleksi berdasarkan nilai rapor, prestasi akademis, serta akreditasi sekolahmu sekolahmu. 
     
  3. Jalur undangan hanya berlaku untuk lulusan di tahun tersebut. Artinya, cuma lulusan 2017 yang boleh ikutan SNMPTN 2017.
     
  4. Jurusan yang bisa kamu pilih maksimal tiga, dan salah satunya wajib PTN berada satu kota dengan SMA kamu. Tapi kalau kamu hanya mendaftar di satu pilihan, maka PTN-nya bebas.
     
  5. Seleksinya gratis!

Peluang:

  • Kursi yang ditawarkan adalah minimal 30% dari total kuota S1 Reguler. Bisa lebih, tapi nggak boleh kurang dari kuota tersebut. Misalnya, di Jurusan Ilmu Komputer Universitas X, menawarkan 100 bangku S1 reguler untuk maba tahun ini, maka SETIDAKNYA 30 di antaranya masuk dari jalur SNMPTN. Bisa juga malah 40 sampai 50 kursi, tergantung kebijakan masing-masing kampus. Makanya, kamu perlu cek kuota SNMPTN di jurusan pilihanmu. Cek deh halaman resmi SNMPTN.ac.id atau laman masing-masing universitas.
     
  • Semakin kinclong nilai dan prestasi kamu selama 5 semester di SMA (mulai dari kelas 10 sampai 12), semakin besar juga peluangmu untuk diterima. Akreditasi sekolah juga berpengaruh. SMA dengan akreditasi yang paling baik (A) mendapat peluang yang paling besar. Itulah salah satu faktor pentingnya memilih SMA/SMK yang oke.
     
  • “Kalau rapor saya warna-warni nggak karuan alias banyak merahnya gimana, Kak?” Sori, nih, berarti peluang kamu di jalur undangan ini lebih tipis dari rempeyek. Tapi tenang, masih ada jalur masuk PTN lainnya, yaitu…

 

SBMPTN (Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri)

  1. Dulu, SNMPTN sering ketuker dengan SBMPTN , soalnya semula namanya sama-sama SNMPTN. Hanya yang satu bernama SNMPTN Jalur Undangan, sementara yang satu lagi SNMPTN Ujian Tertulis. Supaya nggak bingung atau tertukar, SNMPTN versi ujian tertulis pun diganti namanya menjadi SBMPTN.
     
  2. Pada SBMPTN, ada tiga hal yang di-ujian-kan kepada pesertanya:

    * Ujian Tes Kemampuan dan Potensi Akademik (Matematika Dasar, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris serta kemapuan verbal, numerikal dan figural) yang harus diikuti oleh semua peserta.

    * Tes Kemampuan Dasar Sains dan Teknologi (Matematika, Biologi, Kimia, dan Fisika) yang diikuti oleh peserta ujian yang memilih jurusan IPA.

    * Tes Kemampuan Dasar Sosial dan Humaniora (Sosiologi, Sejarah, Geografi, dan Ekonomi) yang diikuti oleh peserta ujian yang memilih jurusan IPS.

    Kalau kamu mengambil jurusan IPC (bidang jurusan IPA-IPS), berarti kamu wajib mengikuti SEMUA tesnya. Pecyah, sooob! Sementara kalau kamu mau masuk jurusan seni atau olahraga, akan ada ujian keterampilan tersendiri.
     
  3. Jurusan yang bisa kamu pilih maksimal dua (atau tiga khusus untuk IPC). Setidaknya salah satu pilihan PTN harus berada di kota tempat kamu mengikuti tes SBMPTN.
     
  4. Peserta dikenakan biaya Rp 200,000,00

Peluang:

  • Kursi yang ditawarkan sama seperti SNMPTN, yaitu minimal 30% dari total kuota S1 Reguler. Boleh lebih, tergantung kebijakan masing-masing PTN.
     
  • Kalau kamu sudah lulus SMA/SMK 1-2 tahun lalu, kamu masih boleh ikutan SBMPTN tahun ini. Artinya SBMPTN 2017 bisa diikuti lulusan 2017, 2016, dan 2015.
  • It’s do or die! Rangkaian tes SBMPTN yang berlangsung sekaligus dalam satu hari ini menentukan kamu diterima atau nggak di PTN pilihanmu.
     
  • Oya, sekarang jadwal pendaftaran ulang SNMPTN berbarengan dengan jadwal tes SBMPTN, yaitu 16 Mei 2017. Ini untuk menghidari calon maba yang diterima dobel SNMPTN dan SBMPTN sehingga mengambil jatah yang lain.

 

Seleksi Mandiri

  1. Sekarang ini, banyak PTN yang mengadakan penerimaan calon mahasiswa sendiri, di luar yang diselenggarakan pemerintah. Antara lain, SIMAK UI (Seleksi Masuk Universitas Indonesia), UTUL UGM (Ujian Tulis Universitas Gadjah Mada) dan USM Unsri (Ujian Saringan Masuk Universitas Sriwijaya).
     
  2. Tetapi ada juga PTN yang nggak mengadakan seleksi mandiri, seperti ITB dan Universitas Padjadjaran. Untuk PTN tersebut, kuota kursi SBMPTN dan SNMPTN-nya ditambah.
     
  3. Materi dan tata cara ujian mandiri berbeda-beda, tergantung universitas dan jurusan masing-masing. Namun ujiannya biasanya tertulis dan materinya nggak beda jauh dengan SBMPTN.
     
  4. Beberapa PTN memiliki jalur mandiri tapi tanpa tes sendiri. Jadi gimana, dong? PTN tersebut melihat dari nilai SBMPTN-nya. Yang memberlakukan cara ini di tahun 2017 antara lain adalah Universitas Airlangga Surabaya dan Universitas Sebelas Maret, Surakarta. Wih, berarti harus makin serius, nih mengerjakan SBMPTN-nya.
     
  5. Biaya pendaftaran jalur seleksi mandiri tergantung masing-masing PTN.

Peluang:

  • Kursi yang ditawarkan adalah maksimal 30% dari total kuota S1 Reguler. Nggak boleh lebih dari 30 persen sob!
     
  • Ujian mandiri ini safety net terakhir bagi calon mahasiswa yang ingin masuk program S1 Reguler di PTN, apalagi karena waktu pendaftaran dan jadwal tesnya pun biasanya paling belakangan.
     
  • Biasanya, sih, ujian mandiri akan memberikan tambahan pilihan program selain S1 reguler, seperti kelas pararel dan D3 vokasi.

Dibuat dan dikembangkan di Jakarta, Indonesia Hak Cipta Dilindungi 2015 - 2018 Youthmanual ©