Menu

Dewi Lestari, Berbagi Kisah Masa Kuliah Hingga Sukses Mengikuti Passion

Kamu pasti udah nggak asing sama nama Dewi (Dee) Lestari. Sosok penulis dan penyanyi ini begitu populer karena buku-buku karangannya yang laku keras. Ia juga aktif mencipta lagu dan bernyanyi, baik solo ataupun bersama Rida Farida (Rida) dan Sita Nursanti (Sita) dalam grup RSD.

Mbak Dee lulus dari Universitas Katolik Parahyangan‍ Bandung, jurusan Hubungan Internasional. Kalau tahun lulusnya jangan ditanya ya, gaes. Pokoknya, meskipun udah senior, jiwa mudanya masih menggelora. Terbukti novelnya yang berkisah tentang anak muda berjudul “Perahu Kertas” sukses banget. Buku ini kemudian dibuat filmnya dan diperankan oleh Maudy Ayunda dan Adipati Dolken. Lagu Perahu Kertas yang menjadi original soundtrack film ini juga ditulis oleh Mbak Dee sendiri.

Beberapa waktu lalu, Youthmanual berkesempatan melakukan wawancara lewat email bersama sang penulis dan penyanyi kece yang sudah menelurkan banyak karya ini. Yuk, simak kisah inspiratifnya!

***

Hai, Mbak Dee. Lagi mengerjakan project apa sekarang?

Lagi nggak mengerjakan apa-apa alias rihat. Februari 2016 lalu saya menyelesaikan serial Supernova dengan merilis buku ke-6 sekaligus penutup yakni Inteligensi Embun Pagi, dan sekarang ini saya masih jeda dulu dari proses kreatif, mungkin hingga awal 2017.

Bagaimana awalnya Mbak Dee menjadi seorang penulis? Kapan dan bagaimana Mbak Dee sadar bahwa passion Mbak Dee adalah bidang ini?

Sejak kecil saya senang mengkhayal, mulai coba menulis agak serius sejak kelas 5 SD, dan pada tahun 2001, tepat ketika berulang tahun ke-25, saya menerbitkan buku pertama saya, Supernova: Kesatria, Putri, dan Bintang Jatuh.

Menurut Mbak Dee, bagaimana prospek karir penulis di Indonesia? Mengingat industri ini memiliki banyak sekali pesaing.

Sebagai karier, tentu permasalahannya bukan kreativitas atau pesaing aja, tapi industri perbukuan secara keseluruhan. Untuk beberapa penulis yang berhasil, sekarang ini bukannya nggak mungkin mengandalkan profesi penulis sebagai sumber mata pencaharian.

Tapi, hal ini bukan sesuatu yang mudah dicapai. Nggak ada formula pasti agar buku kita bisa jadi best-seller. Kalau formula itu ada, harusnya semua buku bisa jadi best-seller. Kenyataannya, nggak, tuh. Jadi, saya lebih fokus untuk menuliskan topik yang saya sukai, berusaha bekerja sebaik mungkin. Itu lebih penting daripada fokus sama kemauan pasar. Saya percaya basis pembaca itu bisa diciptakan.

Adegan film Perahu Kertas, yang diangkat dari salah satu novel laris Mbak Dee

Apa yang paling Mbak Dee sukai dari menjadi seorang penulis, dan apa tantangannnya?

Paling menyenangkan adalah saya bisa menciptakan semesta kehidupan saya sendiri. Ibaratnya, saya menjadi “Rahim” dari hal-hal yang saya bayangkan dan tulis.

Tantangan utama bagi saya adalah menjaga keseimbangan dalam kegiatan sehari-hari. Maksudnya, saya harus tetap berusaha menjalankan kegiatan lain dan peran fungsional lain di luar menulis. 

Siapa penulis atau penulis idola Mbak Dee, dan kenapa?

Banyak. Salah satunya Graham Hancock. Karyanya kebanyakan nonfiksi, meski ada beberapa yang fiksi. Dedikasinya untuk sebuah topik, melakukan penelitian, dan menuangkannya ke dalam tulisan, sangat luar biasa.

Waktu kuliah, bagaimana, sih, profil dan aktivitas Mbak Dee secara garis besar? (berprestasi secara akademis? Suka berorganisasi? Suka nongkrong di kampus?)

Saya sudah memulai karier jadi penyanyi dari awal masuk kuliah, jadi saya nggak punya banyak kesempatan terlibat di aktivitas kampus. Waktu itu udah sibuk membagi waktu antara kuliah dan karier. Jadi saya datang ke kampus ya seperlunya aja. Saya juga nggak punya ambisi berprestasi secara akademis. Malah lebih sering nahan ngantuk ketika kuliah.

Tapi ketika skripsi, saya akhirnya menemukan topik yang benar-benar menarik dan mendadak saya jadi serius banget belajar. Sayangnya, itu baru terjadi menjelang saya lulus, hehe.

First job Mbak Dee dulu apa? Kenapa memilih pekerjaan itu? How did you like it? Tell us more about it!

Jadi penari. Tahun 1990, kelas 1 SMA. Pementasan pertama saya honornya saya belikan tas sekolah dan empat jam tangan Kura-Kura Ninja. Motivasinya lebih karena iseng mencoba dan kebetulan klub dance saya itu dapat porsi di sebuah pertunjukan besar, jadi saya langsung dilibatkan secara profesional.

I stayed in the dance club for one year. I didn’t enjoy it as much as I enjoyed singing and music, to be honest. Tapi, itu adalah pengalaman berharga yang nggak bakal saya lupakan.

Apa skill yang dipelajari di luar bangku sekolah, tapi bermanfaat untuk profesi Mbak Dee sekarang?

Musik. Saya les piano, dan itu menjadi basis saya untuk menciptakan lagu. Untuk nyanyi saya otodidak, lebih karena aktif di paduan suara dan grup vokal sejak kecil, baik di gereja maupun di ekskul sekolah.

Boleh cerita tentang satu contoh kegagalan Mbak Dee dalam karier ataupun studi? Apa yang bikin kembali bersemangat?

Saking sibuknya di paduan suara dan grup vokal, waktu kelas 2 SMA saya sempat jadi ranking 49 dari 51 siswa. Itu rekor akademik saya yang terburuk.

Tapi, saya nggak nyesal-nyesal amat, karena saya tahu itu bukan karena saya bodoh, tapi karena saya fokus ke hal lain. Pada saat bersamaan, saat itu saya memimpin seksi kesenian di sekolah, dan SMA saya mendapatkan prestasi puncaknya di ajang-ajang perlombaan musik. 

Kalau nggak jadi penulis atau penyanyi, kira-kira seorang Dewi Lestari bakal berprofesi sebagai apa?

Mungkin jadi juru masak dan buka restoran.

Hal apa yang Mbak Dee lakukan dulu ketika kuliah tapi nggak dilakukan oleh teman-teman sehingga Mbak Dee bisa sukses seperti sekarang?

Saya kurang tahu pasti karena nggak ngecek juga kegiatan semua teman saya. Saya hanya merasa beruntung karena bisa tahu passion saya cukup awal dan serius menggelutinya.

What would you say to your 20-year-old self?

The best is yet to come.

***

Sttt… Mau tahu proses kreatif Mbak Dee saat menulis novel Perahu Kertas? Juga tips-tips menulis langsung dari idola kita yang satu ini? Nantikan artikel berikutnya ya, gaes!

(sumber gambar: alchetron.com, thoughtsonfilms.files.wordpress.com, hipwee.com, trivia.id)

Dibuat dan dikembangkan di Jakarta, Indonesia Hak Cipta Dilindungi 2015 - 2018 Youthmanual ©