Menu

Nyontek Proses Kreatif dan Tips Menulis ala Dewi (Dee) Lestari

Gaes, kamu tentu udah baca wawancara saya bersama Dewi (Dee) Lestari seputar masa muda dan passionnya dalam menulis dan bernyanyi dong, ya? Nah, sekarang kita mau nyontek soal proses kreatif Mbak Dee ketika menulis dan tips singkat dari sang penulis novel-novel best-seller, termasuk novel Perahu Kertas ini.

Menurut Mbak Dee, mau belajar, memelihara rasa ingin tahu, punya disiplin, dan jeli mengamati keadaan sekitar termasuk mengamati batinnya sendiri adalah etos kerja yang harus dimiliki seorang penulis.

Kalau kamu pernah baca novel Perahu Kertas, kamu harus tahu bahwa cerita aslinya ditulis oleh Mbak Dee semasa dia kuliah, tahun 1996. Mbak Dee ingin membuat cerita cinta yang elegan dalam format cerita bersambung. Namun, karena waktu itu (sekarang juga, sih) nggak banyak media yang memuat cerita bersambung, akhirnya Perahu Kertas dijadikan novel. Naskah kemudian ditulis ulang tahun 2008 dengan setting waktu yang sedikit dimajukan.

Mbak Dee mengaku nggak kesulitan dalam mendalami dunia Keenan dan Kugy. Yang lebih kecenya nih, gaes, Mbak Dee menyewa kamar kos untuk untuk menulis! Kamar kos ini tetangganya mahasiswi semua. Jadi, atmosfer kos-kosan itu membantu banget.

Dewi Lestari - Youthmanual

“Waktu itu saya mencoba metode menulis yang belum pernah saya lakukan sebelumnya, yaitu menentukan deadline duluan terus mengumumkan deadline tersebut ke publik. Jadi, ada ekstra tekanan. Akibatnya, saya jadi lebih fokus. Metode itu akhirnya saya pakai terus,” Kata Mbak Dee ketika ditanya pengalaman paling berkesan dalam menulis novel Perahu Kertas.  

Tempat dan Waktu khusus untuk menulis

Ketika ditanya soal tips, Mbak Dee bilang kita harus bikin ruang dan waktu yang rutin untuk menulis. Maksudnya, kamu boleh punya tempat spesial buat menulis supaya kamu merasa bahwa menulis memang kegiatan yang spesial. Misal, tempatkan meja di dekat jendela, pergi ke café favorit atau malah menyewa kamar kos seperti yang Mbak Dee lakukan!

Sebetulnya, ide bisa datang kapan saja dan dari mana saja. Tapi untuk membuat itu sebagai cerita utuh, kamu tentu butuh tempat yang lebih nyaman.

Mbak Dee juga bilang, sediakan waktu khusus. Dua jam per hari, misalnya. Buat target tenggat waktu dan agenda kerja, dan berusahalah untuk mematuhinya. Coba selesaikan sebuah karya, apapun formatnya. Biasanya, begitu seseorang sudah berhasil menamatkan sebuah karya, dia bakal punya kepercayaan diri untuk meneruskan ke karya berikutnya. Nggak usah untuk diterbitkan dulu juga tidak apa-apa. Yang penting berlatih.

Saya juga sempat baca blog pribadi Mbak Dee tentang perbaikan karya. Perbaikan teknis terhadap tulisan kita selalu bisa dilakukan. Diperlukan ketekunan untuk mau “membedah” cerita dan memperbaikinya.

Dari sisi teknis, kita bisa mengevaluasi elemen-elemen cerita berikut ini:

Pertama, karakter (Apa yang bisa saya perbaiki agar karakter saya lebih menarik? Apakah dia butuh tantangan baru? Kelemahan baru? Kekuatan baru? Gender baru? Hobi baru?).

Kedua, setting (Apakah saya perlu mencoba kota lain? Lingkungan lain? Waktu lain?).

Ketiga, plot (Apakah saya perlu mengubah rangkaian kejadian dalam cerita saya? Bagaimana susunan peristiwa yang lebih seru supaya terasa ada klimaks cerita?).

Keempat, konflik (Apa konflik yang logis dan relevan yang perlu dialami oleh karakter saya? Perlukah ditambah? Perlukah dikurangi?).

Hingga mungkin kita perlu mempertanyakan ulang hal paling dasar, yaitu tema (Apakah ini tema yang betul-betul ingin saya garap? Adakah tema lain yang mungkin lebih cocok bagi saya saat ini?).

Puyeng? Proses menulis memang begitu, gaes! Jangan mundur, ya! Seperti kata Mbak Dee, draft pertama memang tercipta untuk dibantai dan dimaki-maki! Hehehe…

***

Oh iya, Mbak Dee juga bakal hadir di acara Ubud Writers and Readers Festifal 2016, lho. Menurut Mbak Dee, Hadir di UWRF selalu menyenangkan karena bukan cuma berkesempatan untuk melihat banyak sesi menarik dari penulis berkualitas, tapi juga atmosfer kreatif yang bisa dinikmati hanya dengan hadir di sana selama UWRF.

Kalau kamu pengen ketemu sama Mbak Dee, kamu bisa mengikuti talk show membahas perjalanan serial Supernova. Jadwalnya, tanggal 28 Oktober di Bentara Budaya Bali, jam enam sore sampai setengah delapan malam. Selain itu, Mbak Dee juga bakal mengisi acara di tanggal 29 Oktober di Indus Restaurant dan Ubud Bridges, masih dalam rangkaian acara UWRF 2016.

“It’s so refreshing and invigorating. Menyaksikan begitu banyak orang kreatif berkumpul dan berbagi pengalaman mereka, menurut saya sudah merupakan manfaat yang luar biasa.” Kata Mbak Dee menutup wawancara kami.

Terima kasih banyak sudah berbagi inspirasi, Mbak Dee! Sampai bertemu di kesempatan selanjutnya.

(sumber gambar: Instagram @deelestari, agus-nurhadi.blogspot.co.id, rollingstones.co.id)

Dibuat dan dikembangkan di Jakarta, Indonesia Hak Cipta Dilindungi 2015 - 2018 Youthmanual ©