Menu

Profesiku: Ahli Diet dan Nutrisi, Irna Herawati

Dalam seri "Profesiku", kamu bisa kenalan dengan berbagai profesi, lewat cerita para senior yang menekuninya. Kali ini, yuk, kenalan dengan profesi ahli diet dan nutrisi bersama Irna Herawati!

Irna Herawati (Irna) adalah seorang Ahli Diet dan Nutrisi (Dietitian/Nutritionist) yang bekerja di Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita. Irna merupakan lulusan Politeknik Kesehatan Bandung‍ di Jurusan Ilmu Gizi tahun 2010, dan kini menjabat sebagai Nutrisionis Pelaksana di tempatnya bekerja.

Profesiku:

“Ahli diet dan nutrisionis, spesifiknya nutrisionis pelaksana di RS Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita. Sebagai nutrisionis, saya merupakan tenaga kesehatan non-medis yang mengatur pemberian diet, memberikan konsultasi, informasi maupun edukasi mengenai pengaturan diet kepada individu atau kelompok.”

Tugasku sehari-hari:

“Tugas saya yang paling utama adalah melakukan kegiatan asuhan gizi pasien di ruang rawat inap. Kegiatan ini meliputi:

  • Perhitungan dan pengaturan diet pasien sesuai kondisi dan kebutuhan,
  • Melakukan monitoring dan evaluasi terhadap pemberian diet yang sudah dilakukan,
  • Melakukan pelaporan mengenai intake makan dan perubahan kondisi pasien yang berhubungan dengan status gizi pasien kepada tenaga medis lainnya,
  • Melakukan kontrol terhadap makanan yang akan diberikan kepada pasien (kesesuaian diet, jumlah, bentuk, dan lainnya), dan
  • Memberikan konsultasi, informasi dan edukasi pasien tentang diet yang diberikan.

Lalu, saya melakukan quality control terhadap produk makanan yang dibuat di area produksi dapur instalasi gizi rumah sakit.

Saya juga bertugas untuk memberikan penyuluhan kepada pasien rawat jalan dan keluarga pasien yang bersangkutan, serta bertanggung jawab dalam  komunikasi dan evaluasi dengan tenaga medis lain mengenai status pasien.”

1

Modal yang diperlukan untuk menjadi seorang ahli diet dan nutrisi:

“Ada dua kemampuan penting yang menurut saya harus kamu kuasai jika ingin menjadi seorang ahli diet dan nutrisi.

Yang pertama adalah kreativitas. Kamu nggak boleh kehilangan ide dalam menginformasikan dan menjelaskan cara agar rencana diet yang sudah dibuat dapat diterima oleh pasien. Kamu harus bisa muter otak untuk meyakinkan mereka agar nggak “ngeyel” dan mau menerapkan rencana diet yang telah kamu susun, karena nggak semua pasien memiliki watak dan karakter yang mudah untuk mendengarkan, apalagi menerima saran.

Kedua, kamu harus komunikatif. Serupa dengan kemampuan yang satunya, disini kamu harus pandai mengkomunikasikan segala informasi dengan baik agar mudah dipahami oleh pasien yang berasal dari berbagai kalangan.”

Tahapan untuk mencapai posisi sebagai nutrisionis pelaksana:

“Para nutrisionis merupakan lulusan Diploma III atau S1. Pada jenjang diploma, ahli gizi biasanya ditempuh dalam waktu 3 tahun di beberapa politeknik negeri maupun swasta. Sedangkan untuk jenjang S1 biasanya ditempuh sekitar 4-5 tahun dibeberapa universitas negeri dan swasta.

Saya sendiri memilih untuk menjadi pegawai negeri sipil dengan mengikuti tes CPNS pada tahun 2014 lalu. Tes CPNS yang saya lewati ada 2 tahap yaitu Tes Kemampuan Dasar (TKD) dengan system CAT. Dan Tes Kemampuan Bidang (TKB) yaitu mengenai bidang yang saya tekuni.

Lulusan DIII ahli gizi akan berada di tingkat jabatan pengatur golongan IIC (seperti saya yang sekarang menjabat sebagai nutrisionis pelaksana) dan berikutnya akan bertahap selama kurang lebih 4 tahun atau dengan menyelesaikan ke jenjang pendidikan berikutnya.”

Hal yang disukai selama menjadi ahli diet dan nutrisi:

“Hal yang saya sukai selama menjalani pekerjaan ini adalah dapat mempelajari lebih banyak mengenai pentingnya menjaga pola hidup sehat bagi diri saya sendiri dan lingkungan sekitar saya. Jadinya saya pun banyak berinteraksi dengan orang-orang dari berbagai kalangan dan belajar mengenali beragam sifat dan karakteristik mereka.

Serunya, salah satu goal yang bisa saya capai dari pekerjaan ini adalah ketika saya dapat membuat orang lain mengubah mindset mereka untuk membentuk pola hidupnya ke arah yang lebih sehat, dan faktor utamanya adalah membantu mereka memahami pentingnya pengaturan pola makan yang baik.”

2

Kendala yang ditemukan selama menjalani profesi ini:

“Pastinya ketika saya berhadapan dengan pasien yang keras kepala, sehingga saya harus memutar otak ekstra keras agar pengaturan diet yang saya rencanakan dapat diterima. Tahu sendiri, ‘kan, kalau masih banyak pasien yang nggak bisa menerima makanan rumah sakit dengan lapang dada, hehehe.

Trus, nggak cuma pasien, tapi terkadang ada pula rekan kerja yang sifat dan karakternya agak sulit untuk diajak bekerjasama sehingga menghambat pengaturan diet yang sudah direncanakan. Lingkungan kerja yang terkesan monoton juga kadang bisa bikin saya bosen.

Tapi tantangan bagi saya sebagai seorang ahli diet dan nutrisi yang sesungguhnya adalah menyampaikan pesan agar peran sertanya dapat dikenal dan mempengaruhi perubahan pola hidup masyarakat ke arah yang lebih baik.”

Pesan untuk anak muda yang ingin menjadi ahli diet dan nutrisi:

“Jangan takut untuk berkarier sebagai ahli diet dan nutrisionis. Banyak hal dan pengalaman berharga yang saya alami selama menjalani pekerjaan ini. Kita memang dituntut untuk pintar mengatur waktu dan membagi pikiran, tapi hal tersebut terbayarkan karena menurut saya tidak ada lulusan gizi/diet/nutrisi yang menganggur.

Nutrisionis di Indonesia umumnya tidak begitu banyak didengar, namun pegerakan seorang mereka dapat merubah status kesehatan di lingkungannya. Hal yang umumnya sering disepelekan karena “makanan” memiliki dampak yang luar biasa bagi tingkat kesehatan di negaranya.”

(sumber gambar: dok. pribadi)

Dibuat dan dikembangkan di Jakarta, Indonesia Hak Cipta Dilindungi 2015 - 2018 Youthmanual ©