Menu

Profesiku: Dokter Hewan, Wangi Wiji Linuwih

Dalam seri "Profesiku", kamu bisa kenalan dengan berbagai profesi, lewat cerita para senior yang menekuninya. Kali ini, yuk, kenalan dengan profesi dokter hewan bersama Wangi Wiji Linuwih!

Wangi Wiji Linuwih atau yang biasa dipanggil Wen adalah seorang Dokter Hewan (Veterinarians) yang berdomisili di Kota Jambi. Wen merupakan lulusan jurusan Kedokteran Hewan‍  di Universitas Gadjah Mada‍  pada tahun 2014 silam. Usianya baru saja menginjak 24 tahun, dan kini sudah mengantongi gelar drh. Awsum!

Profesiku:

“Saya adalah seorang dokter hewan, yang memiliki slogan manusia mriga satwa sewaka yang artinya 'mengabdi untuk kesejahteraan manusia melalui dunia hewan', hehehe. Oya, saya juga salah satu staf laboratorium Kesehatan Hewan dan Kesmavet (kesehatan masyarakat veteriner) Dinas Peternakan Kota Jambi.”

Tugasku sehari-hari:

“Kebetulan saat ini saya masih seorang dokter hewan praktek/praktisi hewan kecil yang buka praktek di rumah sendiri. Nah, karena pekerjaan dokter hewan selalu berbeda-beda di tiap bidangnya, saya sebagai dokter hewan praktek punya pekerjaan sehari-hari yang mungkin kurang lebih sama dengan layaknya seorang dokter umum.

Sehari harinya, saya memberikan layanan berupa pengobatan kepada hewan kecil (kebanyakan pasien saya sejauh ini adalah anjing dan kucing), memberikan edukasi kepada klien, juga melakukan operasi pada kasus-kasus tertentu.”

1

Modal yang diperlukan untuk menjadi seorang dokter hewan:

“Kalau soal modal utama, pastinya harus kuliah di jurusan Kedokteran Hewan.

Trus, kalau mau jadi dokter hewan, kamu juga nggak harus suka sama semua hewan, kok. Tapi, jika kamu suka dengan hewan tertentu, itu bisa memudahkan saat praktek nanti. Karena praktek di perkuliahan nggak bakal lepas dari hewan, baik yang hidup maupun yang sudah tidak bernyawa.

Takut dengan sesuatu itu wajar banget! Bahkan saya pun takut dengan darah saat awal masuk kuliah. Tapi karena sudah berkali-kali “ketemu” darah, alhasil sekarang sudah tidak takut darah lagi. Darah hewan doang, sih. Kalau darah manusia saya masih merinding, hehehe.

Intinya, semuanya akan menjadi biasa setelah kamu terbiasa.”

Jalan yang harus ditempuh untuk menjadi seorang dokter hewan:

“Profesi ini membutuhkan jenjang pendidikan lagi setelah wisuda. Ketika mahasiswa lain setelah skripsian bisa bernafas lega, profesi dokter (dokter apa aja, bahkan dokter gigi sekalipun) akan menghadapi koas (koasistensi) untuk mendapat gelar dokter di depan nama mereka.

Bisa dibilang masa-masa koas adalah “ujian” yang sesungguhnya. Semasa koas, para dokter muda mengalami semua untuk pertama kalinya, memiliki pasien untuk pertama kalinya, jaga malam untuk pertama kalinya, sampai melakukan operasi bedah untuk pertama kalinya, dan semuanya tentu masih dibawah bimbingan dokter hewan senior.

Koas tiap universitas memiliki bagian yang berbeda-beda, sesuai minat kamu. Kalau di kampus almamater saya, koas dibagi menjadi koas bedah, koas interna hewan besar, koas reproduksi dan kebidanan, koas diagnosa laboratorik, koas kesmavet, dan koas interna hewan kecil.”

Hal yang disukai selama menjadi dokter hewan:

“Pastinya kepuasaan batin yang saya dapatkan ketika bisa membantu merawat hewan yang sakit. Ketika saya menangani proses kelahiran hewan, saya selalu merasa terharu, lho. Rasanya bahagia banget bisa membantu munculnya kehidupan baru di muka bumi ini.

Bisa menjadi seorang dokter (hewan) menjadikan saya pribadi yang selalu bersyukur dan dapat mengembangkan diri menjadi lebih baik lagi setiap harinya.”

2

Tantangan yang ditemukan selama menjadi dokter hewan:

“Karena selalu berinteraksi dengan hewan yang perilakunya tidak bisa diprediksi, bahkan hewan jinak sekalipun, dokter hewan memiliki risiko cedera yang cukup tinggi. Hewan memiliki insting untuk melindungi diri yang bisa saja melukai kita, sehingga dokter hewan harus berhati-hati dalam memberi tindakan, dan menggunakan teknik yang khusus pula.

Lalu, ada hal menarik yang harus kamu ketahui soal kedokteran hewan, nih. Karena dokter hewan belum terspesialisasi seperti dokter manusia (seperti spesialis kulit, spesialis penyakit dalam, spesialis bedah), pekerjaan kami harus meliputi semua spesies hewan. Jadi, seorang dokter hewan dituntut untuk bisa menjadi “ahli” di semuanya. Padahal, ‘kan, beda hewan, beda penyakit, beda pula cara penanganannya!

Spesialisasi di dokter hewan mungkin lebih pada jenis pengelompokan hewannya, kali, ya? Dan ada dokter hewan yang memiliki jam terbang super padat dan pengalaman jauh lebih tinggi dibanding yang lainnya. Dokter hewan ini meliputi dokter hewan yang concern di bidang satwa liar (primata, burung), ternak besar (sapi, kambing, kerbau), akuatik (lumba-lumba, paus), atau hewan coba/percobaan.”

Tips untuk anak muda yang ingin berkarier sebagai dokter hewan:

“Menjadi dokter (hewan) membutuhkan mental yang kuat dan ketekunan yang tinggi. Asal ada kemauan, semua pasti bisa dicapai. Dan jangan pernah menyerah, ya. Karena menjadi seorang dokter berarti mau belajar tanpa henti.”

(sumber foto: dok. pribadi)

Dibuat dan dikembangkan di Jakarta, Indonesia Hak Cipta Dilindungi 2015 - 2018 Youthmanual ©