Menu

Profesiku: Psikolog, Mardiana Hayati Solehah

Dalam seri "Profesiku", kamu bisa kenalan dengan berbagai profesi, lewat cerita para senior yang menekuninya. Kali ini, yuk, kenalan dengan profesi psikolog yang ditekuni Mardiana Hayati Solehah.

Mardiana Hayati Solehah (Dian) adalah lulusan S1 jurusan PsikologiUniversitas Indonesia dan S2 Profesi Psikologi Klinis Universitas Gadjah Mada‍.

Profesiku:

“Psikolog Muda di RSUP Fatmawati Jakarta Selatan”

Tugasku sehari-hari:

Secara garis besar, tugas psikolog rumah sakit adalah menangani pasien, baik mandiri (kemauan sendiri) atau rujukan dokter. Di RS. Fatmawati, layanan psikolog ada di rawat jalan (poliklinik) dan rawat inap (bangsal).

Rawat jalan itu pasiennya beragam, dari usia anak hingga lanjut usia. Banyak pasien di poliklinik yang merupakan rujukan dari dokter. Biasanya, konsultasinya mengenai tumbuh kembang, rehabilitasi medis, dan psikiatri. Meskipun begitu, ada juga pasien yang datang karena kemauan sendiri.

Sementara kalau rawat inap, sebagian besar rujukan dokter. Biasanya, pasien yang dirujuk adalah pasien yang nggak kooperatif, nggak mau nurut instruksi perawatan, ada indikasi gangguan psikologis seperti depresi atau kecemasan. Kita juga sering mengedukasi keluarga tentang kondisi pasien dan pasien penyakit terminal alias sulit disembuhkan.

Penanganan pasien biasanya berupa assessment atau penilaian, psikotes (tes IQ, kepribadian, minat-bakat, kesiapan sekolah, dll), konseling, dan psikoterapi.

Psikoterapi bisa dari yang paling ringan seperti relaksasi. Bisa juga yang bertahap dan lebih banyak sesinya, seperti  terapi kognitif atau perilaku.

Selain menangani pasien, kami juga kadang diminta bantuan untuk membantu departemen Sumber Daya Manusia (SDM) dalam perekrutan karyawan baru dan penilaian karyawan bermasalah. Pekerjaan ini nggak setiap saat, kok. Kalau lagi diminta bantuan saja.

Modal yang perlu dimiliki untuk menjadi seorang psikolog:

Untuk menekuni profesi sebagai psikolog, tentunya harus menempuh pendidikan profesi Psikologi Klinis dan mendapat gelar M.Psi, Psikolog.

Pada beberapa universitas, profesi klinisnya bisa dibagi dua, yaitu dewasa dan anak. Di UGM nggak ada pemisahan begitu. Ada manfaatnya juga sih karena di RS, kita harus siap menangani pasien dengan berbagai macam usia

Selain gelar, kita juga harus punya pemahaman tentang ilmu psikologi, cara administrasi psikotes, teknik konseling dan membuat laporan. Sebetulnya semua itu dipelajari saat kuliah. Tapi supaya wawasan kita lebih oke, ikuti juga seminar, pelatihan, dan workshop di bidang psikologi.

Mardiana Hayati - Youthmanual

Suka duka menjadi seorang psikolog:

Sukanya, pekerjaan ini bikin kita bisa berinteraksi dengan banyak orang. Bikin kita belajar kasus baru dan merasa jadi kayak detektif. Kita menerka kenapa pasien bisa menjadi seperti ini. Masalah yang sama bisa jadi punya penyelesaian yang berbeda. Menjadi psikolog cocok untuk orang yang suka pekerjaan dinamis dan menantang.

Dukanya, karena jumlah pasien RSUP sangat banyak dan heterogen, kita harus pintar-pintar mengedukasi orang dengan berbagai macam latar belakang. Terutama, untuk mereka yang pendidikannya rendah.

Biasanya, yang kayak gini masih percaya banget sama mitos atau mistis. Tiap ada masalah, penyebabnya pasti guna-guna atau santet, kemasukan roh, dan langsung ke "orang pintar" alias dukun. Kadang aku sering becanda sama teman-teman psikolog atau dokter. Pasien yang nggak mempan datang ke “orang pintar”, maka kami sebagai “orang bodoh” jadi pilihan kedua. Hehehe…

Tapi yang lebih sulit dari ini adalah pasien yang resisten. Jenis pasien ini atau keluarganya nggak jelas maunya apa dan merasa paling pintar. Dikasih tau kondisinya, menolak. Disarankan terapi, banyak alasannya. Tapi bulak-balik minta jalan keluar. Lah, aku kudu piye??? Hehehe…

Walau kami nggak boleh nolak pasien, kadang kami merujuk pasien yang kurang kooperatif ke teman psikolog lain. Ini dilakukan demi kesehatan jiwa pribadi dan menjaga objektivitas.

Risiko lain adalah harus siap mendengarkan jeritan dan tangis anak, diludahi, dimuntahi, dilempari, dipukul dan ditendang, sampai ruangan porak-poranda.

Biasanya ini terjadi pada pasien anak berkebutuhan khusus, disabilitas intelektual, down syndrome, autisme, ADHD, gangguan prilaku, dan delayed development. Solusinya, kita harus siap sedia berbagai cara untuk membujuk. Sediakan mainan, permen, buku, peralatan menggambar dan mewarnai, serta stok kesabaran yang banyak.

Jenjang karir seorang psikolog:

Di sini, aku baru bekerja selama satu setengah tahun, maka statusnya masih staf. Rekan psikolog yang lebih lama waktu kerjanya sudah menjadi penyelia (setara supervisor). Jenjang yang lebih tinggi biasanya lebih dilibatkan ke manajemen RS.

Tips untuk anak-anak muda yang mau menjadi psikolog:

Perlu banget kondisi tubuh yang fit dan kondisi mental yang kuat. Kita nggak tahu pasien seperti apa yang akan kita hadapi.

Belajar mengendalikan emosi dari sekarang baik dalam bertutur maupun bertindak. Kalau udah lelah, biasanya aku istirahat dulu sebelum menangani pasien berikutnya. Ngemil dan minum minuman hangat, lihat-lihat foto anak, nonton youtube, baca webtoon dan hal lain yang bikin happy.

 

(Sumber gambar: dokumentasi pribadi Dian)

Dibuat dan dikembangkan di Jakarta, Indonesia Hak Cipta Dilindungi 2015 - 2018 Youthmanual ©