Menu

R. Aditya Brahmana, Mahasiswa Berprestasi yang Langsung Jadi Manajer di GO-JEK Indonesia Setelah Lulus Kuliah

Gaes, kenalan, yuk, sama R. Aditya Brahmana.

Kenapa? Karena ada banyak hal keren yang harus kamu pelajari dari alumni Institut Teknologi Sepuluh Nopember, jurusan Teknik Informatika, angkatan 2011 ini.

R. Aditya Brahmana, yang akrab dipanggil Adit, baru saja diwisuda bulan lalu. Tetapi sekarang (cuma satu bulan kemudian!,) dia sudah direkrut sebagai Operations & Marketing Manager GO-BOX dan GO-SEND di perusahaan Go-Jek Indonesia.

Hebatnya lagi, Adit sudah tahu passion-nya sejak dia masih SD. Nggak banyak, lho, orang bisa begini. Ceritanya, ketika Adit kelas 5 SD, dia dan keluarganya pindah ke Batam. Di salah satu kamar di rumah barunya, dia menemukan bundel majalah komputer, seperti Chip dan Komputer Aktif. Entah apa alasannya, penghuni rumah sebelumnya meninggalkan majalah-majalah tersebut.

Adit pun iseng membolak-balik halaman salah satu majalah tersebut, eeeh, ujung-ujungnya nggak bisa berhenti. "Dari situ awal ketertarikan saya dengan Teknologi Informasi," kenang Adit, dikutip dari situs Tempo.

“Sejak saat itu, saya bercita-cita menjadi pengusaha di bidang Teknologi Informasi, seperti Mark Zuckerburg.” kata cowok kelahiran 9 November 1992 ini.

Jalannya makin terbuka ketika pada tahun 2011, Adit diterima kuliah di jurusan Teknik Informatika, Institut Teknologi Sepuluh November, Surabaya. Dia pun makin getol mengutak-atik bilangan biner dan elektronika.

Karena totalitasnya, Juni 2016 lalu, Adit sukses meraih penghargaan “Mahasiswa Berprestasi Tingkat Nasional 2015” dari DIKTI.

Nasional, sob! Kebayang nggak, sih, prosesnya?

Dikutip dari situs Tempo, Adit harus mengikuti seleksi tingkat kampus terlebih dahulu hingga akhirnya masuk dalam 30 finalis nasional. Kemudian dia mengikuti seleksi akhir lagi, untuk menjadi juara. 

Dalam keseluruhan proses, Adit harus melalui berbagai seleksi yang sangat menempa pengembangan dirinya. Mulai dari presentasi Karya Tulis Ilmiah, wawancara prestasi serta kepribadian, sampai uji kemampuan bahasa Inggris. Secara keseluruhan, yang dinilai adalah prestasi akademik peserta, keterlibatan peserta dalam aktivitas ekstrakurikuler, dan kontribusi peserta kepada pengembangan kepemimpinan mahasiswa lain di Indonesia.

Hasilnya? Adit menjadi juara, diikuti oleh seorang mahasiswa dari Institut Pertanian Bogor, lalu seorang mahasiswa dari Universitas Gadjah Mada.

Salah satu faktor kemenangan Adit adalah mesin ciptaannya yang bernama Zhaped. Mesin ini adalah mesin printer untuk mencetak objek tiga dimensi (3D). Jadi, misalnya, kalau printer biasa hanya bisa mencetak gambar botol, Zhaped bisa membuat botol tiga dimensi yang bisa digenggam dan digunakan.

Teknologi ini bukan teknologi baru, alias sudah ada sejak bertahun-tahun lalu, khususnya di luar negeri. Tetapi sangat mahal. "[Printer 3D] Sangat keren, tapi kok harganya mahal? Saya penasaran, apakah bisa menciptakan printer 3D sendiri dengan budget minim," ujar Adit kepada Tempo. 

Adit pun berhasil membuat printer 3D yang harganya hanya seperempat printer 3D di pasaran. “Saya hanya menghabiskan biaya sekitar Rp5,000,000 untuk membuat printer tersebut, sementara printer 3D di pasaran harganya lebih dari Rp20,000,000,” ujar cowok kelahiran Surabaya ini.

Zhaped, kata Adit, membantu mengantarkannya meraih predikat Mahasiswa Berprestasi Nasional 2015. Tebakan Adit, para juri terkesan dengan Zhaped karena produk ini bisa bermanfaat bagi usaha mikro, kecil, dan menengah di Indonesia.

Selain menjadi Mahasiswa Berprestasi Nasional, prestasi lain Adit yang patut dikagumi adalah mendapat gelar The Best Social Venture Challenge di kompetisi Harvard National Model United Nations (HNMUN) 2015. 

Adit bersama rekan satu timnya di kompetisi HNMUN 2015, Yabes David Losong.

Jadi, Social Venture Challange sendiri adalah kategori kompetisi proyek sosial, yang bisa memberikan dampak besar bagi perekonomian masyarakat.

Adit meraih prestasi ini bersama teman mahasiswa ITS lainnya, Yabes David Losong dari jurusan Teknik Mesin. Dalam kompetisi ini, mereka membuat vermikompos berbahan dasar cacing tanah dan limbah kotoran sapi, yang kemudian dijadikan pupuk untuk meningkatkan produktivitas jagung saat kemarau di Desa Mojosari, Kabupaten Mojokerto.

Dikutip dari Jawa Pos, dari ratusan aplikasi yang masuk ke panitia, hanya sembilan yang dipilih menjadi finalis. Para finalis harus mempresentasikan proyek mereka di hadapan para juri. ’’Kami berdiri dua jam untuk presentasi dan menjawab pertanyaan juri,’’ ucap mahasiswa asli Makassar itu. Hasilnya? Juara satu!

Memang, sih, Model United Nation (MUN) bukan hal baru bagi Adit dan Yabes. Sebelumnya mereka mengikuti Jogja International MUN, University of Petroleum and Energy (UPESMUN), dan International Lyon MUN di Prancis. Mereka juga pernah meraih gelar Outstanding Delegates di Japan University English MUN (JUEMUN). Dari semua acara itu, mereka mendapat koneksi untuk mengirimkan permohonan ke Harvard University.

***

Keren abis! Nggak heran kalau Adit langsung diangkat jadi manajer Go-Jek, hanya sebulan setelah diwisuda kuliah.

Apa, sih, kiat atau prinsip hidup Adit supaya bisa sukses begini? Tunggu artikel berikutnya, ya, tentang kutipan-kutipan keren dari Adit. Mungkin bisa kamu jadikan motto hidup juga, hehehe. Stay tune! 

(sumber gambar: ask.fm,  jawapos.com)

Dibuat dan dikembangkan di Jakarta, Indonesia Hak Cipta Dilindungi 2015 - 2018 Youthmanual ©