Menu

Hal-Hal Positif yang Bisa Kamu Tiru Dari Kinerja Pak Ahok, Terlepas Kamu Pendukung Beliau Atau Bukan

Bagi warga DKI Jakarta, tahun 2017 bakal menjadi tahun yang “seru”, nih! Apalagi kalau bukan karena akan ada pemilihan gubernur baru. Lihat, dong, betapa “seru” dan menariknya calon-calon yang dimajukan. Setuju nggak, sob?

Salah satu calon gubernur DKI Jakarta tahun 2017 adalah Bapak Basuki Tjahaja Purnama, alias Pak Ahok. Beliau adalah kandidat yang populer, karena selama ini kinerjanya sudah sangat terbukti. Karakternya juga terkenal jujur sekaligus keras—benar-benar nggak takut melawan orang salah, sob!.

Selama ini, ada banyak testimoni tentang kinerja Pak Ahok. Nah, baru-baru ini, ada cerita baru dari Jhonsar Lumbantoruan, seorang tenaga ahli yang pernah bekerja bersama Pak Ahok SEBELUM beliau menjabat sebagai wakil gubernur, lalu gubernur.

Cerita Pak Jhonsar tersebut saya tampilkan di sini, karena menurut saya, memang menarik.
Apalagi Pak Jhonsar bercerita tentang sikap Pak Ahok sebelum beliau menjadi gubernur, sehingga (mungkin) cerita ini memang mencerminkan sikap asli Pak Ahok.

Mungkin kamu bukan pendukung Ahok. Mungkin kamu malah BENCI banget sama Pak Ahok. Tapi jangan tutup mata dengan beliau sepenuhnya ya, gaes!

Maksudnya, coba ambil hal-hal inspiratif dari sikap beliau yang bisa kamu tiru. Contohnya, hal-hal yang diceritakan Pak Jhonsar berikut ini…

“Saya pernah bekerja selama kurang lebih 2,5 tahun (Oktober 2009 - Februari 2012) di Komisi II DPR RI dengan Basuki Tjahaja Purnama. Dia [menjabat] sebagai anggota DPR, [sementara] saya sebagai tenaga ahli.

Saya tidak memiliki kedekatan pribadi dengan [Ahok]. Hanya saja, sebagai anak buah, saya harus aktif memperhatikan karakteristik setiap anggota DPR, termasuk Ahok, karena saya harus [beradaptasi] dengan karakter setiap anggota, untuk membantu mereka menjalankan fungsinya.
Ada beberapa pengalaman yang saya ingat tentang kinerja dan perilaku [Ahok] selama [bekerja] di Komisi II DPR RI.

• Ahok sangat rajin mengikuti rapat, meskipun nggak selalu berbicara dalam forum. Dia selalu mencatat peristiwa rapat dan memasukkannya dalam situs pribadinya.

• Bila ada pemberian uang kepada anggota DPR—entah itu honor pembahasan undang-undang, uang perjalana, dan sebagainya—sebelum dia teken (tandatangani), dia akan tanya kepada sekretrariat, “Ada pajaknya nggak?” Bila tidak ada pajaknya, dia tidak bakal terima. Menurut Ahok, bila ada pemotongan pajak, baru berarti uang itu legal.

• Suka ngomel-ngomel kepada sekretariat bila dia dimasukkan ke sheet ekonomi dalam penerbangan. Dia bilang, negara sudah membayar sheet kelas bisnis bagi para pejabat negara (anggota DPR). Jadi kalau masih menggunakan sheet ekonomi, berarti ada korupsi terselubung.

• Suka merepotkan sekretariat komisi II DPR, karena Ahok suka mengembalikan sisa uang perjalanan kunjungan kerja. Misalnya, jadwal kunjungan kerja direncanakan lima hari, tetapi praktiknya hanya tiga hari. Maka sisa uang perjalanan untuk dua hari akan dikembalikan Ahok, padahal hal ini tidak dilakukan anggota lain. Karena hanya Ahok yang mengambalikan, maka  ini menjadi tambahan kerja bagi sekretariat… memang susah berhadapan sama orang jujur!

• Menurut pengamatan saya, Ahok tidak begitu disenangi oleh anggota lain, karena pemikirannya sering berseberangan dengan anggota lain. 

Salah satu contohnya, ketika sedang membahas program E-KTP yang menelan biaya Rp.6,5 Triliun, Ahok kurang setuju. Dia bilang, “Ngapain boros-boros biaya? Kasih aja E-KTP itu dibuat dan dikelola BRI. Selain praktis, kartunya bisa sekaligus digunakan jadi ATM. Semua penduduk Indonesia yang berusia 17 tahun punya ATM, BRI pun bisa jadi bank terbesar di Asia Tenggara.” [Masukan ini] nggak ditanggapi anggota lain. Kasihan ‘kan lo, Hok?

• Orangnya nggak bisa basa-basi, selalu to the point. Kalau suka, bilang suka. Kalau tidak suka, bilang tidak suka. Tetapi Ahok selalu hangat sama orang lain, dan nggak pernah merasa dia seorang pejabat. Di DPR, Ahok lebih banyak bergaul sama cleaning service dan office boy.

• Kata orang, Ahok pelit. Soal ini saya nggak tahu, karena saya belum pernah dikasih uang, dan saya juga nggak pernah minta uang dari dia. Mungkin yang bilang Ahok pelit adalah orang-orang yang memang nggak pernah dikasih uang.

Tetapi menurut saya, Ahok bukan pelit. Hanya saja, dia memang nggak punya uang untuk dibagikan. Uang dari mana? Dari hasil laporan penggunaan uang yang diunggah di situsnya saja, sisa dari gaji dan tunjangan kehormatan selama Ahok aktif di DPR cuma sekitar dua juta rupiah. Bagaimana mau kasih-kasih uang ke orang?

• Ahok pernah bilang sama saya, jangan takut tidak disukai orang. Kita bisa menjadi terkenal karena ada dua kelompok orang di sekeliling kita, yaitu orang-orang yang suka dengan kita, dan orang-orang yang tidak suka.

Semakin ekstrem kesukaan atau ketidaksukaan orang terhadap kita, kita akan semakin terkenal. Sekarang saya sadar, Ahok terkenal karena sebagian orang sangat suka, dan sebagian orang lagi sangat tidak suka.

Dengan demikian, para pembenci Ahok semacam Ratna Sarumpaet, Ahmad Dani, dan Fadli Zon sama pentingnya [bagi popularitas Ahok] dengan para pendukung Ahok, seperti Teman Ahok, untuk menjadikannya terkenal. Karena itu saya yakin, Ahok tidak punya sedikitpun rasa dendam kepada para pembencinya, karena mereka juga sudah berjasa dalam membesarkan nama Ahok.

• Ahok pernah bilang, agama seharusnya tidak dibawa-bawa dalam politik, karena semua hal-hal yang baik dalam agama sudah disarikan dan dimasukkan dalam konstitusi kita, yaitu UUD 1945. Sehingga kalau pejabat negara sudah menjalankan amanat UUD 1945, berarti dia juga sudah menjalankan nilai-nilai dan ajaran agamanya masing-masing."

Gimana? Sikap beliau ada yang bisa kamu tiru 'kan?

(sumber gambar: republika.co.id, globalindonesianvoices.com, kabarna.id)

Dibuat dan dikembangkan di Jakarta, Indonesia Hak Cipta Dilindungi 2015 - 2018 Youthmanual ©