Menu

SMK Negeri 6 Kota Malang, Siswa Bisa Membayar Uang Sekolah dengan Sampah

Bulan lalu, kepala sekolah SMKN 6 Malang, Ibu Dra. Dwi Lestari, MM mengadakan sosialisasi pentingnya menabung sampah buat biaya pembayaran uang sekolah. Terobosan ini dilakukan dalam menghadapi persoalan kebersihan lingkungan dan persoalan keterlambatan pembayaran sumbangan penyelenggara pendidikan (SPP) para siswanya.

Berdasarkan catatan yang dimiliki sekolah, dari 2.612 siswanya, rata-rata setiap bulan yang mampu membayar SPP secara rutin cuma 40%. Pelunasan SPP baru akan mencapai sekitar 75% saat dilakukan ujian semester.

“Bahkan, pada akhir masa sekolah, selalu terjadi pemutihan penunggakan pembayaran sekolah hingga mencapai 30%,” kata Ibu Dwi. Selama ini nilai SPP yang diterapkan untuk para siswa paling tinggi mencapai Rp175 ribu/bulan.

Nah, supaya persoalan penunggakan pembayaran SPP ini nggak mengganggu kegiatan sekolah, Ibu Dwi dan jajaran sekolah bikin terobosan dengan menghidupkan bank sampah sekolah. Para siswa jadi bisa menabung, tapi nggak berupa uang tunai.

Bank Sampah Aksata, adalah program pengumpulan sampah kering dan sampah plastik yang bisa disetor sama para siswa SMKN 6 Malang untuk kemudian dihitung perkilo. Dalam penjualannya, pihak sekolah bekerja sama dengan Bank Sampah Malang (BSM). Setiap minggu, sampah hasil tabungan siswa di angkut untuk dijual. Rata-rata, sampah hasil tabungan siswa itu mencapai lima kuintal per minggu, lho!

"Ketika mereka kesulitan membayar keperluan sekolah. Mereka bisa membayar dengan tabungan itu," kata Ibu Dwi.

Nggak cuma itu, pihak sekolah juga memiliki tujuan lain melalui kegiatan tersebut, yaitu menciptakan rasa kepedulian pada diri siswa, membentuk karakter kewirausahaan dan membangun budaya menabung. Tidak semua kertas yang bisa dibawa untuk ditabung oleh siswa.

Harga yang dipatok ke siswa mulai dari Rp 1.500 hingga Rp 3.000 per kilogram, sedangkan untuk sampah kertas mulai dari Rp 1.800 hingga Rp 2.500 per kilogram. Harga tersebut selisih lebih rendah Rp 200 dibanding dengan harga yang dipatok di BSM. Pasalnya, pihak sekolah butuh biaya untuk mengangkut dan memilah sampah-sampah hasil tabungan siswa tersebut.

Koordinator Penimbangan dan Pemilahan yang juga Staff Administrasi SMKN 6 Kota Malang, Ibu Nurul Fitriyah bilang, biasanya siswa-siswa itu setelah tiba di sekolah langsung menaruh sampah yang dibawanya ditempah yang telah disediakan.

Masing-masing siswa memberikan nama di kantong sampah tersebut. Kemudian pihak sekolah yang bertugas menimbang sampah yang dibawa siswa itu dan hasilnya dicatat di buku tabungan milik siswa.

"Jadi tidak mengganggu terhadap pelajaran siswa," ungkapnya.

Dikutip dari Kompas, Dewi Silfiyawannur, siswa kelas 10 di Jurusan Rekayasa Perangkat Lunak mengaku terbantu banget sama kegiatan menabung melalui sampah ini. Menurut Dewi, kegiatan tersebut bisa membantu orang tuanya membayar uang keperluan sekolah.

"Menurut aku, kegiatan ini bisa lebih mengurangi beban orang tua untuk membeli peralatan sekolah," katanya. Selama tiga bulan, Dewi sudah berhasil menabung lima kilogram sampah. Sampah-sampah itu dia bawa dari rumah atau dari mengumpulkan sampah di sekolah.

Hal yang sama juga dirasakan oleh Destrian Farel Andrianto, siswa kelas 10 jurusan Rekayasa Perangkat Lunak. Dia mengaku, kegiatan tersebut bisa mengurangi tumpukan sampah di rumahnya.

***

Seru ya, gaes! Kalau sekolah kamu punya program unggulan apa untuk membantu siswa memiliki kegiatan positif?

 

Baca juga:

Cara Keren SMA Al-Azhar 2 Pejaten Melatih Kepekaan Sosial Siswanya

Cara Keren SMA Kolese Kanisius Meningkatkan Sikap Toleransi Beragama Muridnya. Harus Banget Ditiru Sekolah Berbasis Agama Lainnya!

 

(Sumber gambar: netz.id, kompas.com, jengpatrol.com)

Dibuat dan dikembangkan di Jakarta, Indonesia Hak Cipta Dilindungi 2015 - 2018 Youthmanual ©