Menu

Tahun Ini, Anak-Anak Muda di Italia Bakal Dikasih Uang Oleh Pemerintah, Untuk Senang-Senang! Apa Tujuannya?

Siapa, sih, siswa yang suka tugas? Nggak ada lah, ya.

Tetapi tahun ini, anak-anak remaja di Italia bahagia banget mendapatkan “tugas ekstra” dari pemerintah Italia. Malah kalau bisa, mereka ingin “tugas”nya ditambah. Waduh, kok bisa? Iya, soalnya tugas tersebut adalah foya-foya menghabiskan uang!

Jadi, tahun ini, pemerintah Italia mencanangkan sebuah program "bonus budaya" (cultural bonus). Intinya, setiap warga Italia yang lahir dpada tahun 1998 berhak mendapatkan uang bonus sebesar 500 Euro per orang, yang bisa mereka gunakan untuk kegiatan seni budaya, seperti misalnya nonton film di bioskop, mengunjungi museum, nonton pertunjukan musik, beli buku, dan sejenisnya.

FYI, 500 Euro itu kira-kira setara 7,2 juta rupiah. Gokil!

Untuk mendapatkan uang tersebut, mereka harus daftar online dan men-download sebuah aplikasi.

Dikutip dari situs NPR, program uang gratisan ini tentu saja disambut bahagia oleh anak-anak muda se-Italia, seperti Daniele Montagna, yang langsung tahu uangnya mau dipakai untuk apa, “Beli tiket konsernya Justin Bieber, dong!”

Wow, memangnya bisa? Bisa. Program ini nggak membatasi, kok, uangnya mau dihabiskan untuk kegiatan seni “tinggi” (seperti misalnya datang ke museum), atau kegiatan pop culture (seperti misalnya nonton Justin Bieber). Pokoknya asalkan berhubungan dengan seni dan budaya, bebas!

Apa, sih, alasan pemerintah Italia mencanangkan program ini? Alasannya bukan karena mereka kebanyakan duit (malah, angka pengangguran anak muda di Italia sekarang sudah mencapai angka 40%, dan perekenomian Italia sudah bertahun-tahun susah), tetapi karena mereka mau memerangi ekstrimisme.

Wah, yang bener?

Secara spesifik, pemerintah Italia berharap program ini akan memberikan dua hasil. Pertama, meningkatkan wawasan kebudayaan anak-anak muda di Italia.

Kedua, mengintegrasikan warga imigrannya yang jumlahnya makin berkembang.

Sebagai negara besar di Eropa, setiap tahun Italia selalu kedatangan banyak imigran dari berbagai benua. Dengan program insentif ini, Italia berharap anak-anak muda imigran bisa cepat mempelajari dan menyerap budaya Barat, khususnya budaya Italia, sehingga mereka cepat “menyatu” dengan warga lokal. Harapannya, masyarakat Italia nggak terpecah belah dan nggak ada anak muda imigran yang tiba-tiba terjebak masuk kelompok radikal, lalu bikin aksi teror di Italia.

Perdana Mentri Matteo Renzi pertama kali mengumumkan program "bonus budaya" ini November tahun lalu, setelah terjadinya tragedi pembunuhan massal di Paris, dimana seorang teroris radikal membunuh 130 orang di dalam gedung teater dan di jalanan.

“Mereka (para radikal) menghancurkan patung, tetapi kita menjaganya,” beliau bilang dalam pidatonya saat itu. “Mereka membakar buku-buku, tetapi kita adalah negara perpustakaan. Mereka punya visi teror, tetapi kita tanggapi dengan kebudayaan.”

Intinya, PM Matteo Renzi ingin memerangi ekstrimisme dengan kebudayaan dan intelektualitas. Keren, sih.

Tetapi ada pihak-pihak yang mempertanyakan, apakah program ini bakal efektif. Memangnya, dengan dikasih uang begitu, anak-anak muda bakal dijamin “sayang” sama Italia dan nggak akan jadi ekstrimis?

Barak Mendelsohn, seorang senior di Institut Penelitian Kebijakan Asing di AS, sekaligus seorang ahli dalam melawan ekstrimisme berpendapat, “Ada banyak orang radikal yang tetap mengambil keuntungan dari negaranya, sambil tetap membangun bom. Mereka nggak malu berbuat begitu kepada negaranya sendiri, yang telah mendanai hidup mereka.”

Lagipula, takutnya ada anak-anak imigran Muslim yang malah nggak suka merasa “harus” menelan hiburan Barat yang nggak sesuai dengan kepercayaan mereka. Hal ini malah bisa jadi memicu tindakan ekstrimisme, deh!

Meski begitu, nggak salah juga kalau Italia mau melakukan berbagai upaya untuk mencegah aksi terorisme di negaranya. Siapa yang nggak kebat-kebit, ketika melihat video propaganda ISIS yang menyertakan penampakan monumen-monumen besar Italia, seperti koloseum dan menara Pisa?

Ditambah, Italia selalu kedatangan puluhan ribu migran dan pendatang setiap tahun. Musim semi ini, kepolisan Italia menangkap empat orang yang dicurigai akan membom Vatikan.

Kata Stefano Dambruoso, seorang anggota parlemen Italia, “Sudah ‘kodrat’ negara Barat menerima para imigran massal dari negara-negara yang terlibat konflik. Alasan kami mengadakan program "bonus budaya" ini bukan karena kami negara yang baik banget, tetapi kami hanya ingin mengintegrasikan para pendatang ini dengan kebudayaan barat.”

Kalau program seperti ini diadakan di Indonesia, kira-kira bakal efektif nggak, sob? Dan uangnya akan kamu pakai untuk apa, tuh?

(sumber foto: qz.com, mlive.com, npr.org)

Dibuat dan dikembangkan di Jakarta, Indonesia Hak Cipta Dilindungi 2015 - 2018 Youthmanual ©